Halo, berjumpa lagi dengan saya, Rifqi Prasetyo Santoso. Hmm, kayaknya terlalu canggung bila memakai nama lengkap, baiklah kalian bisa mulai memanggil saya dengan sebutan "Pakde". Loh kok? Apa-apaan ini?! Harap tetap kondusif, yang di tribun atas tolong tenang jangan anarkis *oke ini lebay*. Nah pasti kalian bingung dan bertanya-tanya mengapa saya dipanggil dengan sebutan "Pakde"? Lewat postingan kali ini saya akan mencoba mengetengahkan bahasan mengenai nama panggilan saya ini.
Semua bermula tatkala saya baru duduk di bangku SMP, karena sebelumnya saya berdiri nggak dapat bangku, hehe. Ya kira-kira baru seminggu saya merasakan indahnya kehidupan SMP, bercengkerama dengan teman-teman baru, sekolah masuk siang (dulu kelas VII masuk siang karena kelas terbatas), punya facebook, bikin basecamp di masjid sekolah, dan sebagainya. Di kelas, kami mempunyai teman, seorang anak (bukan anaconda tapi) laki-laki yang posturnya agak kecil, lucu, imut, tapi sayang kumisnya lebat, yang kami posisikan dia sebagai "adik kecil" karena postur dan tingkahnya. Suatu hari, saya baru sampai di kelas dan mendekati mereka yang sedang bercanda. Di sana ada dia, sebut saja adeklucutapikumisan yang sedang ikut bercanda. Tatkala melihat saya, si adeklucutapikumisan ini langsung menunjuk saya sambil berkata, "Mau main sama Pakde...". Seketika itu juga teman satu kelas melihat saya sambil tertawa. Dan mulai detik itu pula nama "Pakde" melekat pada diri saya.
Awalnya, hanya teman sekelas saja yang menyebut dengan sebutan "Pakde". Namun akhirnya hal itu menyebar ke seantero sekolah bahkan sampai beberapa guru pun memanggil saya dengan sebutan "Pakde". Kayaknya asyik punya nama panggilan jadi bisa dikenal orang, namun ironisnya ternyata nggak ada yang tahu nama asli saya selain teman yang sekelas/pernah sekelas dengan saya. Sampai pernah pas ibu saya ke sekolah untuk mengambil raport, beliau sempat kebingungan mencari kelas saya sampai bertanya pada beberapa anak,
"Dek, maaf mau tanya. Kalo kelas VII-1 dimana ya?", tanya ibu saya.
"Kelas VII-1? Dimana ya? Kalo boleh tau kelasnya siapa, Bu?", tanya salahsatu anak.
"Kelasnya Rifqi Prasetyo Santoso, adek kenal gak?".
"Rifqi? Rifqi siapa ya?", mereka saling bertatapan bingung.
"Kelasnya 'Pakde'.", kata ibu saya yang sebelumnya pernah saya ceritakan tentang panggilan ajaib buat anaknya ini.
"Oooh ibunya Pakde toh..."
"Mari bu sini saya anterin", tawar salahsatu di antara mereka sambil tersenyum.
"...", ibu saya heran.
Akhirnya nama itu benar-benar melekat pada diri saya sampai sekarang di bangku kuliah (temen kuliah manggil Pakde juga -_-").
Sekian dulu untuk postingan kedua saya kali ini. Mungkin masih banyak kekurangan di sana-sini, harap maklum karena ini kali pertama saya nulis bebas setelah sebelumnya vacum selama 5 tahun. Oleh karena itu saya mohon kritik dan sarannya. Hehe.
Selamat bertemu dipostingan saya selanjutnya.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum.
Awalnya, hanya teman sekelas saja yang menyebut dengan sebutan "Pakde". Namun akhirnya hal itu menyebar ke seantero sekolah bahkan sampai beberapa guru pun memanggil saya dengan sebutan "Pakde". Kayaknya asyik punya nama panggilan jadi bisa dikenal orang, namun ironisnya ternyata nggak ada yang tahu nama asli saya selain teman yang sekelas/pernah sekelas dengan saya. Sampai pernah pas ibu saya ke sekolah untuk mengambil raport, beliau sempat kebingungan mencari kelas saya sampai bertanya pada beberapa anak,
"Dek, maaf mau tanya. Kalo kelas VII-1 dimana ya?", tanya ibu saya.
"Kelas VII-1? Dimana ya? Kalo boleh tau kelasnya siapa, Bu?", tanya salahsatu anak.
"Kelasnya Rifqi Prasetyo Santoso, adek kenal gak?".
"Rifqi? Rifqi siapa ya?", mereka saling bertatapan bingung.
"Kelasnya 'Pakde'.", kata ibu saya yang sebelumnya pernah saya ceritakan tentang panggilan ajaib buat anaknya ini.
"Oooh ibunya Pakde toh..."
"Mari bu sini saya anterin", tawar salahsatu di antara mereka sambil tersenyum.
"...", ibu saya heran.
Akhirnya nama itu benar-benar melekat pada diri saya sampai sekarang di bangku kuliah (temen kuliah manggil Pakde juga -_-").
Sekian dulu untuk postingan kedua saya kali ini. Mungkin masih banyak kekurangan di sana-sini, harap maklum karena ini kali pertama saya nulis bebas setelah sebelumnya vacum selama 5 tahun. Oleh karena itu saya mohon kritik dan sarannya. Hehe.
Selamat bertemu dipostingan saya selanjutnya.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum.