Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
Cuaca Jakarta
sedang panas ketika saya menulis ini, 32º C panasnya, setidaknya itu yang
dikabarkan aplikasi di smartphone saya yang nggak terlalu smart juga. Saat
menulis ini, percayalah bahwa saya menulisnya dalam keadaan telanjang. Ya,
telanjang, telanjang kaki, tentu karena nggak boleh pakai sandal di dalam
rumah. Penting? Jelas tidak, saya hanya menulis apa yang saya pikirkan saja, sembari
duduk di hadapan meja karena mejanya tidak bisa dijadikan tempat duduk juga
karena saya belum mantap duduk berhadapan dengan bapakmu. Ah sudahlah.
Bingung,
entah ingin menulis apa. Biasanya, di saat seperti ini, di saat tidak tau mau ngapain, saya biasanya disuruh
tidur siang. Katanya, “Udah sana tidur, daripada nggak ngapa-ngapain”. Kata siapa?
Kata ibu saya. Oh ya, bahas ibu saya saja kalau begitu. Lagipula, beliau pun nampaknya
tak akan berkeberatan kalau saya bahas disini, dalam konotasi yang baik
tentunya.
Ibu saya,
beliau perempuan, tentu saja karena bila pria maka dia ayah saya. Beliau anak
sulung dari 5 bersaudara. Lahir di desa Balapulang, Tegal, pada hari Kamis
Pahing 18 Juni 1970. Saya tahu beliau lahir Kamis Pahing (pahing, salahsatu
weton hari untuk kalender Jawa) karena saya lahir di hari Senin Wage. Ini berhubungan
dengan penentuan hari saya dikhitan menurut adat Jawa, tapi mungkin itu akan
dijadikan tulisan tersendiri di suatu saat nanti dikala saya siap menulisnya,
Insya Allah. Kembali ke ibu saya, beliau sesuai pengakuannya, adalah anak yang
tomboy, suka memanjat pohon, dan pernah tak jadi ke sekolah karena tercebur di
sawah. Aneh, sifatnya ini nggak menurun ke saya.
Beliau juga
suka menulis puisi. Ya, itu yang saya ketahui setelah tak sengaja menemukan
notebook kecil yang berisi puisi-puisi gubahannya, sepertinya ditulis ketika
beliau masih remaja. Yang ini sepertinya menurun ke saya, saya juga suka
menulis, walaupun menulis status di media sosial, toh sama-sama menulis, kan? Ibu
juga pintar dalam urusan hitung menghitung, makanya beliau mengaku ketika dulu semasa
SMA pernah “dipaksa” oleh guru-guru untuk mengambil jurusan IPA tapi beliau
lebih memilih jurusan IPS, katanya ingin mengasah kemampuan hitungnya karena
memang beliau ingin menjadi akuntan. Ketika dua kebiasaan ini bergabung, wah
luar biasa, dicatatnya semua detail pengeluaran rumah tangga bahkan recehan
sekalipun di dalam sebuah buku, eh enggak bahkan tiga buku, beberapa catatan
juga saya temukan di beberapa lembar sobekan kertas terpisah. Bukan pelit,
serius beliau nggak pelit, tapi semata-mata agar jelas uang arus uang itu
kemana saja.
Beliau pernah
bekerja, kalau tidak salah ya sebagai akuntan. Kalau tidak salah juga, di
tempat kerja itu pula beliau bertemu dengan ayah saya yang saat itu belum menjadi
ayah saya dan saya pun belum menjadi anak mereka. Mereka sama-sama bekerja
disana walaupun dalam divisi yang berbeda. Kemudian keduanya sepakat untuk
menikah, yaitu 2 November 1996, kemudian di bulan September 1997 saya lahir. Setelah
saya lahir, beliau masih bekerja namun tetap tidak melupakan tugasnya sebagai
ibu, masih menyusui sampai umur saya 2 tahun, atau lebih ya? Hahaha saya tidak
ingat. Kemudian, beliau resign dari kantornya ketika usia saya 3 tahun. Katanya,
suka kasihan kalau saya dititipin, apalagi katanya saya dulu punya kebiasaan
bangun malam karena beliau dan ayah saya kalau pulang dari kantor memang malam.
Ah iya, ibu juga bilang kalau kebiasaan saya suka kopi hitam ya dari umur 3
tahun ini, katanya dulu kalau kebangun malam, salahsatu kakaknya ayah saya yang
momong saya, kemudian bawa saya nonton televisi sambil disuapin kopi hitam
sesendok demi sesendok. Entah, tapi begitulah yang saya dapat.
Sejak resign,
beliau fokus menjadi ibu rumah tangga dan mengasuh anak semata wayangnya ini,
walaupun saya lebih besar dari mata wayang tentunya. Beliau mengasuh saya
hingga sampai saatnya saya masuk taman kanak-kanak. Sebelum itu, beliau yang
mengajari saya mulai dari berbicara, berhitung, menulis, mengenal bentuk, dan
doa-doa harian. Ya, saya diajari beberapa doa dan ayat Al-Quran walaupun belum
bisa membaca tulisan Arab seperti Al-Fatihah dan Ayat Kursi yang kemudian
beliau ajari saya untuk membacanya setiap akan tidur. Oke, kembali ke taman
kanak-kanak. Maksudnya, kembali ke cerita tentang itu. Setelah resmi menjadi
murid taman kanak-kanak, kegiatan belajar saya menjadi lebih intensif. Disana saya
diajarkan bagaimana menulis, menyambung titik, berhitung, membuat kerajinan
tangan, menggambar, ngaduk semen, hmm oke mungkin berlebihan. Tapi selain itu,
di rumah saya juga dibuatkan soal-soal yang harus saya isi kemudian beliau
menyuruh saya untuk memberikan isian soal itu ke wali kelas untuk dinilai. Unik
memang.
Ibu saya cukup
“tegas”, kata lain pengganti kata “galak”, dalam mengajari saya. Kalau saya di
rumah malas-malasan maka beliau akan marah atau setidaknya akan memberikan
cubitan. Saya kesal, dahulu, sampai akhirnya saya menyadari belakangan ini
bahwa saya memang tipe orang yang kurang inisiatif, kalau dibiarkan ya nggak
bakal ngapa-ngapain sampai Metallica rilis album religi. Jadi, beliau lebih
dahulu menyadari hal itu dan melatih saya untuk bisa mandiri dan inisiatif. Soal
mandiri, saya memang anak penakut, pendiam dan jarang bersosialisasi. Bahkan saking
penakutnya, saya tidak hanya minta diantar ibu saya ke sekolah tapi juga minta
ditemani hingga jam pulang sekolah, bahkan saya akan menangis dengan keras
kalau mendapati ibu saya tidak ada di sekolah, walaupun beliau hanya pergi
sebentar sekedar untuk membeli sayur. Bukan sombong, tapi ini berlangsung
hingga saya kelas 3 SD. Dampaknya, saya nggak punya teman selama satu semester
awal, baik di taman kanak-kanak atau di SD, hahaha. Orang tua teman-teman saya
selalu memberitahu anaknya agar jangan berteman dengan saya karena saya
cengeng. Tapi Alhamdulillah saya walau cengeng tapi bisa mendapat peringkat 2
waktu itu, sehingga orang tua teman-teman saya melunak bahkan menganjurkan
anaknya untuk mengajak saya main.
Ibu saya
orang yang baik, pun saya yakin ibu Anda juga pasti begitu. Metode beliau
mendidik saya mungkin keras, ya semata-mata biar anaknya ini yang sifatnya
sudah saya sebutkan di atas tidak terlalu lembek, kalau sudah lembek nanti bau
terus disiram. Oke lupakanlah. Salahsatu yang saya syukuri dari beliau adalah
beliau tidak pernah mengiming-imingi saya hadiah apapun untuk suatu pencapaian
yang berhasil saya lakukan. Misalnya ketika beliau mengajari saya berpuasa, waktu
itu saya masih berumur 6 tahun, beliau selalu bilang kalau saya anak yang hebat
kalau saya bisa berpuasa sampai maghrib. Terdengar seperti tantangan, saya pun
menyanggupinya dari yang awalnya hanya berpuasa sampai jam 10 pagi saya mencoba
untuk puasa sampai maghrib. Beliau hanya mengatakan bahwa kalau puasa penuh kita
dapat pahala, bisa masuk Surga dan di Surga kita bisa minta apa saja, sedangkan
kalau tidak puasa nanti dimasukkan ke Neraka dan dihukum. Atau ketika saya
sekolah maka beliau hanya menyuruh saya untuk sekolah yang benar, biar nanti
jadi orang pintar, maksudnya bukan dukun tentu saja, nanti kalau pintar bisa
jalan-jalan sendiri kemana aja yang saya mau juga nanti bisa bantu orang-orang
yang susah. Namun, walaupun tidak diiming-imingi, seringnya beliau memberi saya
hadiah, katanya untuk ucapan selamat karena berhasil melakukan sesuatu,
walaupun hadiahnya kadang lewat berselang sekian hari atau sekian bulan. Beliau
mengajari saya keikhlasan, bahwa kepuasan hati itu jauh lebih berharga daripada
kepuasan fisik, bahwa balasan materi itu hanya sebagai bonus, saya suka sudut
pandang itu, sayangnya baru sekarang ini saya menyadarinya.
Sekarang pukul
14.37 WIB, cuaca Jakarta berubah mendung. Tapi hawanya tetap panas. Ah,
ternyata kipasnya mati, benda mati yang mati.
Sampai mana
tadi? Saya scroll up dulu ke atas, karena kalau scroll down ke bawah. Sekali lagi,
tidak penting untuk dibahas. Tapi nyatanya kau masih tetap setia bersamaku. Baiklah,
sudah saya scroll up dan mari kita lanjut bercerita.
Ibu saya
sangat pandai mengatur keuangan, satu kelebihan lagi. Asal tau saja, tanpa
mengeluh dan mengharap belas kasih, ayah saya sampai tulisan ini Anda baca adalah
karyawan dan masih berstatus outsourcing atau karyawan kontrak atau buruh
bahasa kasarnya. Gaji beliau ya setara UMR, mungkin lebih, sedikit. Dan ibu
saya sangat pandai mengatur keuangan sehingga kami sekeluarga masih tidak
kekurangan, masih bisa makan daging setidaknya seminggu sekali, membeli
keperluan rumah tangga, sedekah, bahkan membelikan hadiah. Ya, sepengetahuan
saya ibu saya pernah menyisihkan uang belanja kemudian ditabungnya untuk
membeli hadiah, khususnya untuk ibu beliau (mbah) dan juga ibu dari ayah saya
(nenek), dan hadiah yang diberikan juga berupa cincin dan/atau gelang emas
untuk keduanya. Selain itu ibu saya juga ketika berbelanja maka dilebihkan,
untuk nenek saya katanya. Dan ibu saya masih bisa bersedekah, biasanya dalam
bentuk makanan pokok ke tetangga yang dirasa lebih kekurangan dari kami. Ibu bilang
kalau saya sudah sukses umpamanya, jangan lupa ke orang-orang yang dulu pernah
nolong, jangan lupa juga sedekah, yang bisa dikasih untuk nolong orang ya kasih,
yang perlu ditabung ya ditabung, sisanya pakai secukupnya. Simple.
Beliau nggak
sekedar ngasih wejangan, tapi juga contoh langsung. Apa saya termotivasi? Jelas.
Bahkan saya menjadikan membahagiakan ibu sebagai tujuan hidup saya, mungkin juga
kamu, kamu, iya kamu, yang mungkin nggak inget aku, hehe. Saya selalu berusaha
membuat beliau tersenyum bangga. Saya suka karena beliau nggak menuntut yang
macam-macam kepada saya, malah justru saya bertekad memberikan yang macam-macam
itu sebagai bukti saying saya. Mungkin saya dan beliau nggak selalu akur, malah
kayaknya berdebat tiap hari. Tapi setelah itu, saya akan langsung rebahan sambil
kepala saya menyandar di kaki beliau dan seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Saya
selalu merasa aman dan nyaman bahkan sampai saya besar pun hal tersebut masih
saya lakukan. Entah, kalau saya sakit demam, saya selalu dipeluk beliau, setelah
itu besoknya demamnya reda.
Saya ingat,
hari itu adalah hari kelulusan SMP. Ada sebagian teman yang maju ke panggung
bersama orang tuanya untuk diberi piagam karena memperoleh nilai UN tertinggi
di sekolah. Di saat itu beliau nepuk paha saya pelan, “Qi, ibu berdoa
mudah-mudahan kamu nanti bisa bawa ibu naik ke atas panggung itu juga ya”,
sambil menunjuk ke panggung dan hanya bisa saya balas dengan menjawab, “Iya”. Saya
berusaha mewujudkannya, dan pencapaian akademik terbesar saya terjadi di
semester 2 SMA ketika saya berhasil berada di peringkat 1. Ibu saya bangga,
beliau senang sekali, sebagaimana senangnya ketika saya lulus dari SD dan SMP
dengan nilai rata-rata di atas 8.5, beliau mengucapkan selamat dan itu adalah
yang terakhir kali bagi saya.
Sekarang pukul
15.12 WIB, gerimis mulai turun dan adzan Ashar berkumandang sekitar 9 menit
lagi untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Saya ragu untuk melanjutkan
menulis, kacamata saya mulai berembun dan kelenjar lakrimalis saya mulai
berontak namun saya kekang semampu saya, setidaknya sampai selesai penulisan
ini. Baiklah, tanpa berpanjang kalam saya harus menyelesaikan apa yang telah
saya mulai.
Saya naik
ke kelas XI, dan bertekad untuk menjaga peringkat saya. Tidak mudah, tapi patut
dicoba. Tepat sebulan sebelum UAS semester awal di kelas XI, ibu saya jatuh
sakit. Kepalanya sangat sakit katanya, pusing, seperti dipukul-pukul. Kami tidak
berfirasat apapun, kami kira hanya migrain biasa. Semakin lama kondisinya tak
kunjung baik. Beliau mulai mengigau. Dua minggu berlalu, sempat dibawa ke
klinik dan katanya ibu saya terkena vertigo. Setelah itu, beliau tak kunjung
pulih, bahkan suatu waktu beliau pernah meminta tolong saya mengganti baju
beliau kemudian beliau memegang tangan saya dan mengatakan sesuatu yang
kemudian saya tangkap sebagai wasiatnya, tapi biarlah saya yang tahu sendiri. Saya
kaget sembari menepis perkataannya, “Apaan sih, Bu? Nggak usah ngomong
macem-macem, ibu sembuh kok nanti.”, dengan agak sedikit berbisik, walaupun
tidak ada siapa-siapa waktu itu di kamar. Setelah itu, ya setelah itu saya
kembali ke depan meja yang saat ini saya juga tengah menulis kisah ini disana,
saya menengadahkan tangan, “Ya Allah, hamba banyak melakukan kesalahan
kepadanya, jangan Kau ambil dia dalam keadaan saya belum sempat
membahagiakannya”, seketika saya tersedu-sedu, saya menangis sebagaimana dahulu
semasa kecil, namun bedanya kali ini beliau tidak sedang akan pergi sebentar ke
tukang sayur tapi lebih jauh dari itu.
Sekarang 16.42
WIB, hujan turun dengan deras semenjak kumandang Ashar tadi. Sesekali berhenti,
kemudian datang kembali. Kali ini saya sudah mandi setelah sebelumnya shalat
Ashar dan kehujanan di jalan, kemudian tak lupa menyapa 4 pengikut setia yang
selalu menunggu di depan pintu rumah. Tenang saja, mereka kucing walaupun
betina semua, namun saya tentu masih normal, Alhamdulillah.
Setelah perbincangan
itu, beliau tidak lagi mampu berbicara, pandangannya kosong dan setengah
badannya tak bisa digerakkan. Hari itu hari Minggu, beliau dilarikan ke rumah
sakit. Setelah pemeriksaan, beliau didiagnosa mengalami pecah pembuluh darah di
bagian otaknya dan menunjukkan gejala stroke ringan. Setelah dilakukan
serangkaian tindakan medis, ibu saya sudah dapat kembali berbicara walau kadang
masih mengigau. Sudah malam saat itu, ditambah besoknya adalah hari pertama
UAS. Saya dipaksa pulang dan fokus untuk UAS. Sempat menolak dan ingin di rumah
sakit saja, namun karena dibujuk akhirnya saya mengalah.
Senin 2
Desember 2013, hari pertama UAS. Semenjak pagi memang sudah ada firasat yang
tidak mengenakkan, namun saya tepis. Tepat setelah bel tanda masuk, jam 11
siang waktu itu. Saya baru selesai mengisi kolom nama, ada guru bagian
kesiswaan yang memanggil saya dan menyuruh saya berkemas. Perasaan sudah
berkecamuk, sambil menepis itu saya juga mempersiapkan diri untuk kondisi
terburuk. Singkatnya, saya dikabari bahwa ibu saya masih kritis dan drop,
segera saya ke rumah sakit. Dan sesampainya disana ternyata memang beliau sudah
wafat sejak pukul 11 siang.
Sebagai manusia
normal, saya bersedih dan menangis, namun sebisa mungkin mencoba tegar dan
tidak bertindak meratap di luar batas. Ini yang beliau ajarkan kepada saya
semenjak kecil. Sekarang disaat beliau tidak ada, setidaknya saya ingin
membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa semua yang diajarkannya bukan
sesuatu yang sia-sia.
Hujan makin
deras, suhu udara sekarang 27º C.
Rindu,
tentu rindu. Dulu, kalau hujan begini biasanya ibu masih duduk di tempat
shalatnya, entah sambil dzikir, doa, atau baca Al-Quran. Kadang iseng suka
tiduran di pangkuannya, atau duduk sambil baca buku deket beliau. Sekarang,
udah nggak bisa begitu lagi. Hal-hal sederhana yang nampaknya remeh, tapi akan
sangat bermakna ketika sudah tak bisa lagi dilakukan. Entah bagaimana dengan
Anda, tapi saya ketika itu baru menyadari bahwa sesuatu akan terasa amat
berharga justru ketika sesuatu itu hilang. Bodoh memang, karena waktu tak bisa
diulang, yang ada hanya penyesalan.
Terpukul,
jelas. Apalagi, saya seperti kehilangan tujuan hidup waktu itu. Tapi, biarlah
mungkin itu akan menjadi tulisan tersendiri, Insya Allah. Masih banyak
sebetulnya, tapi cukup secara garis besarnya saja. Orang tuamu cuma butuh kamu,
anaknya.
“Karena
umur ibumu belum tentu lebih panjang dari waktu sibukmu,
Berbaktilah
sebelum terlambat,
Sebelum tiba
penyesalan tiada guna.”
[Ust. Dr.
Firanda Andirja]
---
Jakarta,
29 Juli 2017