Sabtu, 29 Juli 2017

Mau Cerita, Boleh?



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Cuaca Jakarta sedang panas ketika saya menulis ini, 32º C panasnya, setidaknya itu yang dikabarkan aplikasi di smartphone saya yang nggak terlalu smart juga. Saat menulis ini, percayalah bahwa saya menulisnya dalam keadaan telanjang. Ya, telanjang, telanjang kaki, tentu karena nggak boleh pakai sandal di dalam rumah. Penting? Jelas tidak, saya hanya menulis apa yang saya pikirkan saja, sembari duduk di hadapan meja karena mejanya tidak bisa dijadikan tempat duduk juga karena saya belum mantap duduk berhadapan dengan bapakmu. Ah sudahlah.
Bingung, entah ingin menulis apa. Biasanya, di saat seperti ini, di saat  tidak tau mau ngapain, saya biasanya disuruh tidur siang. Katanya, “Udah sana tidur, daripada nggak ngapa-ngapain”. Kata siapa? Kata ibu saya. Oh ya, bahas ibu saya saja kalau begitu. Lagipula, beliau pun nampaknya tak akan berkeberatan kalau saya bahas disini, dalam konotasi yang baik tentunya.
Ibu saya, beliau perempuan, tentu saja karena bila pria maka dia ayah saya. Beliau anak sulung dari 5 bersaudara. Lahir di desa Balapulang, Tegal, pada hari Kamis Pahing 18 Juni 1970. Saya tahu beliau lahir Kamis Pahing (pahing, salahsatu weton hari untuk kalender Jawa) karena saya lahir di hari Senin Wage. Ini berhubungan dengan penentuan hari saya dikhitan menurut adat Jawa, tapi mungkin itu akan dijadikan tulisan tersendiri di suatu saat nanti dikala saya siap menulisnya, Insya Allah. Kembali ke ibu saya, beliau sesuai pengakuannya, adalah anak yang tomboy, suka memanjat pohon, dan pernah tak jadi ke sekolah karena tercebur di sawah. Aneh, sifatnya ini nggak menurun ke saya.
Beliau juga suka menulis puisi. Ya, itu yang saya ketahui setelah tak sengaja menemukan notebook kecil yang berisi puisi-puisi gubahannya, sepertinya ditulis ketika beliau masih remaja. Yang ini sepertinya menurun ke saya, saya juga suka menulis, walaupun menulis status di media sosial, toh sama-sama menulis, kan? Ibu juga pintar dalam urusan hitung menghitung, makanya beliau mengaku ketika dulu semasa SMA pernah “dipaksa” oleh guru-guru untuk mengambil jurusan IPA tapi beliau lebih memilih jurusan IPS, katanya ingin mengasah kemampuan hitungnya karena memang beliau ingin menjadi akuntan. Ketika dua kebiasaan ini bergabung, wah luar biasa, dicatatnya semua detail pengeluaran rumah tangga bahkan recehan sekalipun di dalam sebuah buku, eh enggak bahkan tiga buku, beberapa catatan juga saya temukan di beberapa lembar sobekan kertas terpisah. Bukan pelit, serius beliau nggak pelit, tapi semata-mata agar jelas uang arus uang itu kemana saja.
Beliau pernah bekerja, kalau tidak salah ya sebagai akuntan. Kalau tidak salah juga, di tempat kerja itu pula beliau bertemu dengan ayah saya yang saat itu belum menjadi ayah saya dan saya pun belum menjadi anak mereka. Mereka sama-sama bekerja disana walaupun dalam divisi yang berbeda. Kemudian keduanya sepakat untuk menikah, yaitu 2 November 1996, kemudian di bulan September 1997 saya lahir. Setelah saya lahir, beliau masih bekerja namun tetap tidak melupakan tugasnya sebagai ibu, masih menyusui sampai umur saya 2 tahun, atau lebih ya? Hahaha saya tidak ingat. Kemudian, beliau resign dari kantornya ketika usia saya 3 tahun. Katanya, suka kasihan kalau saya dititipin, apalagi katanya saya dulu punya kebiasaan bangun malam karena beliau dan ayah saya kalau pulang dari kantor memang malam. Ah iya, ibu juga bilang kalau kebiasaan saya suka kopi hitam ya dari umur 3 tahun ini, katanya dulu kalau kebangun malam, salahsatu kakaknya ayah saya yang momong saya, kemudian bawa saya nonton televisi sambil disuapin kopi hitam sesendok demi sesendok. Entah, tapi begitulah yang saya dapat.
Sejak resign, beliau fokus menjadi ibu rumah tangga dan mengasuh anak semata wayangnya ini, walaupun saya lebih besar dari mata wayang tentunya. Beliau mengasuh saya hingga sampai saatnya saya masuk taman kanak-kanak. Sebelum itu, beliau yang mengajari saya mulai dari berbicara, berhitung, menulis, mengenal bentuk, dan doa-doa harian. Ya, saya diajari beberapa doa dan ayat Al-Quran walaupun belum bisa membaca tulisan Arab seperti Al-Fatihah dan Ayat Kursi yang kemudian beliau ajari saya untuk membacanya setiap akan tidur. Oke, kembali ke taman kanak-kanak. Maksudnya, kembali ke cerita tentang itu. Setelah resmi menjadi murid taman kanak-kanak, kegiatan belajar saya menjadi lebih intensif. Disana saya diajarkan bagaimana menulis, menyambung titik, berhitung, membuat kerajinan tangan, menggambar, ngaduk semen, hmm oke mungkin berlebihan. Tapi selain itu, di rumah saya juga dibuatkan soal-soal yang harus saya isi kemudian beliau menyuruh saya untuk memberikan isian soal itu ke wali kelas untuk dinilai. Unik memang.
Ibu saya cukup “tegas”, kata lain pengganti kata “galak”, dalam mengajari saya. Kalau saya di rumah malas-malasan maka beliau akan marah atau setidaknya akan memberikan cubitan. Saya kesal, dahulu, sampai akhirnya saya menyadari belakangan ini bahwa saya memang tipe orang yang kurang inisiatif, kalau dibiarkan ya nggak bakal ngapa-ngapain sampai Metallica rilis album religi. Jadi, beliau lebih dahulu menyadari hal itu dan melatih saya untuk bisa mandiri dan inisiatif. Soal mandiri, saya memang anak penakut, pendiam dan jarang bersosialisasi. Bahkan saking penakutnya, saya tidak hanya minta diantar ibu saya ke sekolah tapi juga minta ditemani hingga jam pulang sekolah, bahkan saya akan menangis dengan keras kalau mendapati ibu saya tidak ada di sekolah, walaupun beliau hanya pergi sebentar sekedar untuk membeli sayur. Bukan sombong, tapi ini berlangsung hingga saya kelas 3 SD. Dampaknya, saya nggak punya teman selama satu semester awal, baik di taman kanak-kanak atau di SD, hahaha. Orang tua teman-teman saya selalu memberitahu anaknya agar jangan berteman dengan saya karena saya cengeng. Tapi Alhamdulillah saya walau cengeng tapi bisa mendapat peringkat 2 waktu itu, sehingga orang tua teman-teman saya melunak bahkan menganjurkan anaknya untuk mengajak saya main.
Ibu saya orang yang baik, pun saya yakin ibu Anda juga pasti begitu. Metode beliau mendidik saya mungkin keras, ya semata-mata biar anaknya ini yang sifatnya sudah saya sebutkan di atas tidak terlalu lembek, kalau sudah lembek nanti bau terus disiram. Oke lupakanlah. Salahsatu yang saya syukuri dari beliau adalah beliau tidak pernah mengiming-imingi saya hadiah apapun untuk suatu pencapaian yang berhasil saya lakukan. Misalnya ketika beliau mengajari saya berpuasa, waktu itu saya masih berumur 6 tahun, beliau selalu bilang kalau saya anak yang hebat kalau saya bisa berpuasa sampai maghrib. Terdengar seperti tantangan, saya pun menyanggupinya dari yang awalnya hanya berpuasa sampai jam 10 pagi saya mencoba untuk puasa sampai maghrib. Beliau hanya mengatakan bahwa kalau puasa penuh kita dapat pahala, bisa masuk Surga dan di Surga kita bisa minta apa saja, sedangkan kalau tidak puasa nanti dimasukkan ke Neraka dan dihukum. Atau ketika saya sekolah maka beliau hanya menyuruh saya untuk sekolah yang benar, biar nanti jadi orang pintar, maksudnya bukan dukun tentu saja, nanti kalau pintar bisa jalan-jalan sendiri kemana aja yang saya mau juga nanti bisa bantu orang-orang yang susah. Namun, walaupun tidak diiming-imingi, seringnya beliau memberi saya hadiah, katanya untuk ucapan selamat karena berhasil melakukan sesuatu, walaupun hadiahnya kadang lewat berselang sekian hari atau sekian bulan. Beliau mengajari saya keikhlasan, bahwa kepuasan hati itu jauh lebih berharga daripada kepuasan fisik, bahwa balasan materi itu hanya sebagai bonus, saya suka sudut pandang itu, sayangnya baru sekarang ini saya menyadarinya.
Sekarang pukul 14.37 WIB, cuaca Jakarta berubah mendung. Tapi hawanya tetap panas. Ah, ternyata kipasnya mati, benda mati yang mati.
Sampai mana tadi? Saya scroll up dulu ke atas, karena kalau scroll down ke bawah. Sekali lagi, tidak penting untuk dibahas. Tapi nyatanya kau masih tetap setia bersamaku. Baiklah, sudah saya scroll up dan mari kita lanjut bercerita.
Ibu saya sangat pandai mengatur keuangan, satu kelebihan lagi. Asal tau saja, tanpa mengeluh dan mengharap belas kasih, ayah saya sampai tulisan ini Anda baca adalah karyawan dan masih berstatus outsourcing atau karyawan kontrak atau buruh bahasa kasarnya. Gaji beliau ya setara UMR, mungkin lebih, sedikit. Dan ibu saya sangat pandai mengatur keuangan sehingga kami sekeluarga masih tidak kekurangan, masih bisa makan daging setidaknya seminggu sekali, membeli keperluan rumah tangga, sedekah, bahkan membelikan hadiah. Ya, sepengetahuan saya ibu saya pernah menyisihkan uang belanja kemudian ditabungnya untuk membeli hadiah, khususnya untuk ibu beliau (mbah) dan juga ibu dari ayah saya (nenek), dan hadiah yang diberikan juga berupa cincin dan/atau gelang emas untuk keduanya. Selain itu ibu saya juga ketika berbelanja maka dilebihkan, untuk nenek saya katanya. Dan ibu saya masih bisa bersedekah, biasanya dalam bentuk makanan pokok ke tetangga yang dirasa lebih kekurangan dari kami. Ibu bilang kalau saya sudah sukses umpamanya, jangan lupa ke orang-orang yang dulu pernah nolong, jangan lupa juga sedekah, yang bisa dikasih untuk nolong orang ya kasih, yang perlu ditabung ya ditabung, sisanya pakai secukupnya. Simple.
Beliau nggak sekedar ngasih wejangan, tapi juga contoh langsung. Apa saya termotivasi? Jelas. Bahkan saya menjadikan membahagiakan ibu sebagai tujuan hidup saya, mungkin juga kamu, kamu, iya kamu, yang mungkin nggak inget aku, hehe. Saya selalu berusaha membuat beliau tersenyum bangga. Saya suka karena beliau nggak menuntut yang macam-macam kepada saya, malah justru saya bertekad memberikan yang macam-macam itu sebagai bukti saying saya. Mungkin saya dan beliau nggak selalu akur, malah kayaknya berdebat tiap hari. Tapi setelah itu, saya akan langsung rebahan sambil kepala saya menyandar di kaki beliau dan seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Saya selalu merasa aman dan nyaman bahkan sampai saya besar pun hal tersebut masih saya lakukan. Entah, kalau saya sakit demam, saya selalu dipeluk beliau, setelah itu besoknya demamnya reda.
Saya ingat, hari itu adalah hari kelulusan SMP. Ada sebagian teman yang maju ke panggung bersama orang tuanya untuk diberi piagam karena memperoleh nilai UN tertinggi di sekolah. Di saat itu beliau nepuk paha saya pelan, “Qi, ibu berdoa mudah-mudahan kamu nanti bisa bawa ibu naik ke atas panggung itu juga ya”, sambil menunjuk ke panggung dan hanya bisa saya balas dengan menjawab, “Iya”. Saya berusaha mewujudkannya, dan pencapaian akademik terbesar saya terjadi di semester 2 SMA ketika saya berhasil berada di peringkat 1. Ibu saya bangga, beliau senang sekali, sebagaimana senangnya ketika saya lulus dari SD dan SMP dengan nilai rata-rata di atas 8.5, beliau mengucapkan selamat dan itu adalah yang terakhir kali bagi saya.
Sekarang pukul 15.12 WIB, gerimis mulai turun dan adzan Ashar berkumandang sekitar 9 menit lagi untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Saya ragu untuk melanjutkan menulis, kacamata saya mulai berembun dan kelenjar lakrimalis saya mulai berontak namun saya kekang semampu saya, setidaknya sampai selesai penulisan ini. Baiklah, tanpa berpanjang kalam saya harus menyelesaikan apa yang telah saya mulai.
Saya naik ke kelas XI, dan bertekad untuk menjaga peringkat saya. Tidak mudah, tapi patut dicoba. Tepat sebulan sebelum UAS semester awal di kelas XI, ibu saya jatuh sakit. Kepalanya sangat sakit katanya, pusing, seperti dipukul-pukul. Kami tidak berfirasat apapun, kami kira hanya migrain biasa. Semakin lama kondisinya tak kunjung baik. Beliau mulai mengigau. Dua minggu berlalu, sempat dibawa ke klinik dan katanya ibu saya terkena vertigo. Setelah itu, beliau tak kunjung pulih, bahkan suatu waktu beliau pernah meminta tolong saya mengganti baju beliau kemudian beliau memegang tangan saya dan mengatakan sesuatu yang kemudian saya tangkap sebagai wasiatnya, tapi biarlah saya yang tahu sendiri. Saya kaget sembari menepis perkataannya, “Apaan sih, Bu? Nggak usah ngomong macem-macem, ibu sembuh kok nanti.”, dengan agak sedikit berbisik, walaupun tidak ada siapa-siapa waktu itu di kamar. Setelah itu, ya setelah itu saya kembali ke depan meja yang saat ini saya juga tengah menulis kisah ini disana, saya menengadahkan tangan, “Ya Allah, hamba banyak melakukan kesalahan kepadanya, jangan Kau ambil dia dalam keadaan saya belum sempat membahagiakannya”, seketika saya tersedu-sedu, saya menangis sebagaimana dahulu semasa kecil, namun bedanya kali ini beliau tidak sedang akan pergi sebentar ke tukang sayur tapi lebih jauh dari itu.
Sekarang 16.42 WIB, hujan turun dengan deras semenjak kumandang Ashar tadi. Sesekali berhenti, kemudian datang kembali. Kali ini saya sudah mandi setelah sebelumnya shalat Ashar dan kehujanan di jalan, kemudian tak lupa menyapa 4 pengikut setia yang selalu menunggu di depan pintu rumah. Tenang saja, mereka kucing walaupun betina semua, namun saya tentu masih normal, Alhamdulillah.
Setelah perbincangan itu, beliau tidak lagi mampu berbicara, pandangannya kosong dan setengah badannya tak bisa digerakkan. Hari itu hari Minggu, beliau dilarikan ke rumah sakit. Setelah pemeriksaan, beliau didiagnosa mengalami pecah pembuluh darah di bagian otaknya dan menunjukkan gejala stroke ringan. Setelah dilakukan serangkaian tindakan medis, ibu saya sudah dapat kembali berbicara walau kadang masih mengigau. Sudah malam saat itu, ditambah besoknya adalah hari pertama UAS. Saya dipaksa pulang dan fokus untuk UAS. Sempat menolak dan ingin di rumah sakit saja, namun karena dibujuk akhirnya saya mengalah.
Senin 2 Desember 2013, hari pertama UAS. Semenjak pagi memang sudah ada firasat yang tidak mengenakkan, namun saya tepis. Tepat setelah bel tanda masuk, jam 11 siang waktu itu. Saya baru selesai mengisi kolom nama, ada guru bagian kesiswaan yang memanggil saya dan menyuruh saya berkemas. Perasaan sudah berkecamuk, sambil menepis itu saya juga mempersiapkan diri untuk kondisi terburuk. Singkatnya, saya dikabari bahwa ibu saya masih kritis dan drop, segera saya ke rumah sakit. Dan sesampainya disana ternyata memang beliau sudah wafat sejak pukul 11 siang.
Sebagai manusia normal, saya bersedih dan menangis, namun sebisa mungkin mencoba tegar dan tidak bertindak meratap di luar batas. Ini yang beliau ajarkan kepada saya semenjak kecil. Sekarang disaat beliau tidak ada, setidaknya saya ingin membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa semua yang diajarkannya bukan sesuatu yang sia-sia.
Hujan makin deras, suhu udara sekarang 27º C.
Rindu, tentu rindu. Dulu, kalau hujan begini biasanya ibu masih duduk di tempat shalatnya, entah sambil dzikir, doa, atau baca Al-Quran. Kadang iseng suka tiduran di pangkuannya, atau duduk sambil baca buku deket beliau. Sekarang, udah nggak bisa begitu lagi. Hal-hal sederhana yang nampaknya remeh, tapi akan sangat bermakna ketika sudah tak bisa lagi dilakukan. Entah bagaimana dengan Anda, tapi saya ketika itu baru menyadari bahwa sesuatu akan terasa amat berharga justru ketika sesuatu itu hilang. Bodoh memang, karena waktu tak bisa diulang, yang ada hanya penyesalan.
Terpukul, jelas. Apalagi, saya seperti kehilangan tujuan hidup waktu itu. Tapi, biarlah mungkin itu akan menjadi tulisan tersendiri, Insya Allah. Masih banyak sebetulnya, tapi cukup secara garis besarnya saja. Orang tuamu cuma butuh kamu, anaknya. 

“Karena umur ibumu belum tentu lebih panjang dari waktu sibukmu,
Berbaktilah sebelum terlambat,
Sebelum tiba penyesalan tiada guna.”
[Ust. Dr. Firanda Andirja]
---
Jakarta, 29 Juli 2017