Belakangan ini, saya kembali menghidupkan kebiasaan "gowes" saya setelah "mati suri" sekian lamanya. Seperti pada pagi hari ini, di Minggu yang cerah, dimana matahari tersenyum sumringah, dan badan ini serasa bergairah, bergairah untuk bersepedah tentunyah. Jadi, sebagaimana beberapa Minggu sebelumnya saya pun kembali memantapkan diri untuk menyelusuri "sepi"-nya Jakarta di Minggu pagi.
Jakarta sebagai kota metropolitan juga ibukota negara dikenal sebagai kota yang sibuk, macet, penuh polusi, dan lainnya. Nggak salah memang, tapi nggak sepenuhnya benar juga. Sebagai suatu kota majemuk yang didiami beragam jenis manusia yang berbeda latar belakang suku, agama, pendidikan, profesi, dan sebagainya, kota ini memiliki banyak sisi yang dapat diulas keberadaannya.
Rute yang saya pilih (asal jalan sebetulnya, tanpa perencanaan) adalah rumah (Cijantung) - kramat jati - cawang UKI - utan kayu rawamangun - matraman - kampung melayu - otista - condet - rumah. Setelah melakukan pemanasan ringan namun intensif (mompa ban sepeda), saya segera meluncur untuk bersepeda ria. Oh ya, bersepeda selain berguna untuk membakar lemak-lemak jahat di tubuh saya (wk), juga untuk lebih mengenal kota yang saya tinggali sedari kecil ini.
Gowes bagi saya pribadi memiliki dampak positif, selain raga yang menjadi lebih fit, pikiran yang menjadi lebih jernih, juga hati yang menjadi lebih lembut dan bersyukur. Untuk poin pertama dan kedua mungkin Anda semua sudah paham dan maklum, tapi poin ketiga mungkin agak janggal, betul begitu? Sebenarnya nggak aneh, logikanya ketika kita gowes kita berpapasan dan melihat beragam hal yang terjadi di sepanjang perjalanan. Terlebih apabila kita jeli dan teliti melihat ke kanan dan ke kiri, pasti kita akan memiliki pandangan yang lebih luas lagi mengenai apa yang terjadi di sekitar kita.
Pagi tadi, sebagaimana jamaknya Minggu pagi, banyak orang-orang yang memanfaatkan waktu dengan berolahraga atau melakukan aktivitas lainnya. Sepanjang jalan tadi saya melihat ada ayah yang bersepeda dengan anaknya yang masih kecil, ada juga remaja yang bermain bola, sebagian remaja ada yang bersepeda pula, namun ada juga remaja yang berboncengan tiga sekedar untuk jajan di pasar oagi kemudian ngobrol kesana kemari. Sepanjang jalan itu pula saya kerap melihat banyak pemulung yang tengah memungut botol plastik bekas sembari memanggul karung atau mendorong gerobak. Sebagian besar yang saya lihat adalah orang-orang yang telah memutih rambutnya, beberapa malah sudah mulai membungkuk punggungnya. Ada juga orang-orang yang tidak memiliki tempat bernaung sehingga terpaksa tidur di depan toko yang masih tutup, di emperan jalan, atau di halte pemberhentian bus kota. Saya juga bertemu, di daerah Utan Kayu Utara, seorang nenek yang nampaknya berusia 70-80 tahun, mendorong troli (bener kan ya namanya?) menjajakan serabi/surabi yang dibandrol dengan harga Rp 5000,00/bungkus dimana satu bungkus berisi 3 buah serabi/surabi. Beliau menjajakan dagangannya dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, sesekali beliau meninggalkan troli dagangannya, mengambil senampan serabi/surabi kemudian menawarkannya ke toko-toko sepanjang jalan yang baru memulai aktivitasnya. Kemudian di bawah jalan layang Cawang Kompor, masih ada ternyata jasa cukur rambut jalanan disana. Pemiliknya seorang bapak yang sudah tidak muda lagi umurnya namun masih cekatan memainkan gunting dan sisir untuk merapikan rambut pelanggannya.
Kebanyakan dari mereka yang saya lihat adalah orang-orang yang sudah tua, yang seharusnya sudah diam dan beristirahat di rumah, namun nyatanya himpitan kebutuhan hidup mendesak mereka untuk tetap produktif dalam bekerja, untuk dapat menghilangkan lapar dan dahaga di hari itu atau lebih jauh lagi untuk menghilangkan lapar dan dahaga keluarga yang mungkin menjadi tanggungan mereka.
Namun satu yang saya kagum dari mereka, segurat senyum belum juga hilang dari bibir mereka. Senyum, hal yang sekarang mulai jarang dijumpai dibanyak orang yang nampak bahagia dan sukses hidupnya menurut pandangan manusia namun masih juga tersungging indah di bibir-bibir mereka yang nampak susah hidupnya serta banyak kekurangan. Kerasnya hidup menghantam fisik mereka, namun nampaknya tidak kepada hati mereka.
Hal-hal seperti ini yang hendaknya bisa membuat kita lebih banyak bersyukur dalam hidup terhadap hal-hal yang kita miliki, karena belum tentu orang lain memiliki hal serupa dengan yang kita miliki. Karena hidup yang kau benci, bisa jadi merupakan hidup yang orang lain inginkan. Kita hanya tidak mengetahui seberapa banyak manusia yang mendambakan hidup seperti kehidupan kita, maka selalu syukuri apa yang terjadi pada diri kita.
Jakarta, 10 Desember 2017.
Selesai penulisan, 15.07 WIB.
@santoso_rifqi





