Rabu, 01 Februari 2017

Hujan



Assalamu’alaikum Warahmatullah


            Kali ini saya menulis di dalam kamar, di antara rintik hujan yang mulai berubah deras. Udara mulai sejuk dan suasana menjadi sepi di luar sana, begitu tenang hingga yang ada hanya suara gemericik air dan petir yang sesekali menyambar. Mungkin sebagian anda akan melanjutkan tidur dikala hujan turun, atau sebagian lagi mungkin cenderung bermalas-malasan di atas kasur menikmati suasana hujan yang sejuk dan aroma tanah yang khas, atau bagi golongan yang fanatik mungkin akan langsung berlari dan menikmati guyuran hujan, atau mungkin ada yang merasa hujan nggak hujan sama saja. Entah dengan anda, tapi hujan selalu istimewa bagi saya. Salahsatunya karena hujan adalah rahmat dari Rabb semesta alam sebagaimana firman-Nya,

الذي جعل لكم الارض فراشا والسماء بناء وانزل من الساء ماء فاخرج به من الثمرات رزقا لكم

“Dia yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu…” [QS. Al-Baqarah : 22]

            Selain itu, keistimewaan lain dari hujan bagi saya pribadi adalah air yang turun seakan membawa bermacam kenangan masa lalu yang pernah kita lupakan dan tiba-tiba muncul seketika itu juga. Kenangan-kenangan itu muncul begitu saja, baik berupa kenangan yang menyenangkan atau kenangan pahit yang menyisakan duka. Bersamaan dengan hujan yang mulai reda, mungkin ada diantara anda yang juga baru berhenti dari tawa atau malah baru berhenti terisak. Hujan seperti mempunyai ikatan emosional bagi sebagian orang.

            Ada bait-bait syair yang saya dapatkan berkenaan dengan hujan dan kurang lebih berkesesuaian dengan apa yang saya rasakan,


Hujan adalah rahmat
yang bersamanya turun kedamaian, kerinduan
dan berjuta kenangan yang tak terlukiskan

Hujan adalah kawan
dikala sepi mendera atau sedih merasuk dada

Hujan adalah kekasih
yang menyajikan kenyamanan dalam dekap sejuknya
yang membelai dan menidurkanmu dalam buainya

Terlepas dari pandangan anda mengenai hujan, maka tidak sepantasnya untuk kita mencela hujan. Mungkin anda tidak dapat bepergian karena terhalang hujan namun apakah hal itu dapat menjadi alasan untuk anda mencela dan mencaci hujan? Terkadang kita terlalu egois sehingga kita memandang dari sudut pandang kita saja. Padahal, hujan yang turun semata-mata bukan ditujukan untuk menghalangi kita untuk beraktivitas saja, di sisi lain hujan turun juga untuk mengisi sumur-sumur air kita, atau untuk minum hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan di luar sana, dan mungkin juga hujan turun berkenaan dengan doa orang-orang yang dilanda kekeringan sehingga hujan menjadi jawaban atas doa mereka yang menggembirakan hati-hati mereka. Mungkin juga hikmah terbesarnya, Dia menjadikan kita terhalang dari urusan kita dengan sebab hujan ini adalah untuk melindungi kita dari bahaya yang mungkin mengancam kita, bukankah kita yakin bahwa Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita sebagai hamba-Nya?

Berkenaan dengan banjir, pantaskah menyalahkan dan mencaci hujan padahal banjir yang terjadi adalah dikarenakan ulah kita juga? Aneh bila ada orang yang senantiasa membuang sampah sembarangan sehingga menyumbat saluran-saluran air, kamudian tatkala hujan turun dan terjadi banjir lantas dia menyalahkan hujan? Berhentilah menyalahkan keadaan..

Mungkin saya sudahi dulu tulisan saya kali ini. Nasehat-nasehat yang ada sesungguhnya lebih pantas ditujukan untuk penulis pribadi sebagai bahan introspeksi diri, namun tak ada salahnya juga untuk memaparkannya di muka umum, siapa tahu ada yang sependapat dengan opini penulis. Semoga tulisan kali ini bermanfaat.

Mendung selalu sama,
walau Bumi tak henti berkarya
walau silih berganti masa
walau terjadi sekian cerita
namun langit tak berubah jua

ke atas kita memandang
di angkasa kenangan kita terjaga

Jakarta, 4 Jumadil Ula 1438 H/ 1 Februari 2017 M
@santoso_rifqi