Assalamu’alaikum Warahmatullah
Kali ini
saya menulis di dalam kamar, di antara rintik hujan yang mulai berubah deras. Udara
mulai sejuk dan suasana menjadi sepi di luar sana, begitu tenang hingga yang
ada hanya suara gemericik air dan petir yang sesekali menyambar. Mungkin sebagian
anda akan melanjutkan tidur dikala hujan turun, atau sebagian lagi mungkin
cenderung bermalas-malasan di atas kasur menikmati suasana hujan yang sejuk dan
aroma tanah yang khas, atau bagi golongan yang fanatik mungkin akan langsung
berlari dan menikmati guyuran hujan, atau mungkin ada yang merasa hujan nggak
hujan sama saja. Entah dengan anda, tapi hujan selalu istimewa bagi saya. Salahsatunya
karena hujan adalah rahmat dari Rabb semesta alam sebagaimana firman-Nya,
الذي جعل لكم الارض فراشا والسماء بناء وانزل من الساء ماء فاخرج به
من الثمرات رزقا لكم
“Dia yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit
sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan
dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu…” [QS. Al-Baqarah :
22]
Selain itu,
keistimewaan lain dari hujan bagi saya pribadi adalah air yang turun seakan
membawa bermacam kenangan masa lalu yang pernah kita lupakan dan tiba-tiba
muncul seketika itu juga. Kenangan-kenangan itu muncul begitu saja, baik berupa
kenangan yang menyenangkan atau kenangan pahit yang menyisakan duka. Bersamaan
dengan hujan yang mulai reda, mungkin ada diantara anda yang juga baru berhenti
dari tawa atau malah baru berhenti terisak. Hujan seperti mempunyai ikatan
emosional bagi sebagian orang.
Ada bait-bait
syair yang saya dapatkan berkenaan dengan hujan dan kurang lebih berkesesuaian
dengan apa yang saya rasakan,
Hujan adalah rahmat
yang bersamanya turun kedamaian, kerinduan
dan berjuta kenangan yang tak terlukiskan
Hujan adalah kawan
dikala sepi mendera atau sedih merasuk dada
Hujan adalah kekasih
yang menyajikan kenyamanan dalam dekap sejuknya
yang membelai dan menidurkanmu dalam buainya
Terlepas dari pandangan anda mengenai
hujan, maka tidak sepantasnya untuk kita mencela hujan. Mungkin anda tidak
dapat bepergian karena terhalang hujan namun apakah hal itu dapat menjadi alasan
untuk anda mencela dan mencaci hujan? Terkadang kita terlalu egois sehingga
kita memandang dari sudut pandang kita saja. Padahal, hujan yang turun
semata-mata bukan ditujukan untuk menghalangi kita untuk beraktivitas saja, di
sisi lain hujan turun juga untuk mengisi sumur-sumur air kita, atau untuk minum
hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan di luar sana, dan mungkin juga hujan turun
berkenaan dengan doa orang-orang yang dilanda kekeringan sehingga hujan menjadi
jawaban atas doa mereka yang menggembirakan hati-hati mereka. Mungkin juga
hikmah terbesarnya, Dia menjadikan kita terhalang dari urusan kita dengan sebab
hujan ini adalah untuk melindungi kita dari bahaya yang mungkin mengancam kita,
bukankah kita yakin bahwa Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita
sebagai hamba-Nya?
Berkenaan dengan banjir, pantaskah
menyalahkan dan mencaci hujan padahal banjir yang terjadi adalah dikarenakan
ulah kita juga? Aneh bila ada orang yang senantiasa membuang sampah sembarangan
sehingga menyumbat saluran-saluran air, kamudian tatkala hujan turun dan
terjadi banjir lantas dia menyalahkan hujan? Berhentilah menyalahkan keadaan..
Mungkin saya sudahi dulu tulisan saya
kali ini. Nasehat-nasehat yang ada sesungguhnya lebih pantas ditujukan untuk
penulis pribadi sebagai bahan introspeksi diri, namun tak ada salahnya juga
untuk memaparkannya di muka umum, siapa tahu ada yang sependapat dengan opini
penulis. Semoga tulisan kali ini bermanfaat.
Mendung selalu sama,
walau Bumi tak henti berkarya
walau silih berganti masa
walau terjadi sekian cerita
namun langit tak berubah jua
ke atas kita memandang
di angkasa kenangan kita terjaga
Jakarta, 4 Jumadil Ula 1438 H/ 1 Februari 2017 M
@santoso_rifqi


Tidak ada komentar:
Posting Komentar