Sabtu, 05 November 2016

Sibuk

Assalamu'alaikum Warahmatullah

Akhirnya bisa ngepost lagi. Yes!

Lebay? Mungkin. Tapi setidaknya bagi saya enggak begitu. Kenapa? Hmm mungkin post saya kali ini akan mencoba untuk mengungkap hal-hal yang dianggap tabu menjadi layak untuk diperbincangkan, semua akan dikupas secara tajam setajam... Singlet.
Ehm maaf, maklum jomblo jadi kurang fokus #kodekeras.

Saya adalah seorang mahasiswa jurusan teknik sipil di salahsatu universitas di Jakarta. Sebagaimana telah kita ketahui bersama, fakultas teknik adalah fakultas yang bisa dikatakan cukup "keras" baik ditinjau dari segi materi yang diajarkan, tugas yang diberikan, biaya perkuliahan, dan lain sebagainya. Itulah kenapa fakultas teknik kadang disebut juga sebagai Macan Kampus. Kenapa Macan Kampus? Karena Macan Kemayoran itu julukan untuk klub Persija (tratak dung cess). Banyak spekulasi dan teori yang menjelaskan asal usul julukan Macan Kampus ini, jadi karena belum ada titik temu diantara teori-teori yang ada, kita skip saja pembahasan tentang hal ini.

Sebagai mahasiswa teknik sipil, waktu dan tenaga saya benar-benar terkuras habis. Tugas dan project berdatangan setiap hari tanpa henti. Mungkin hal yang sama dirasakan oleh setiap mahasiswa di setiap jurusan dan fakultas, namun bagi saya yang membedakan antara kami dan mereka adalah intensitas dan kuantitas tugas yang datang serta deadline yang terlalu sempit. Dosen di jurusan saya satu sama lain seakan-akan beranggapan bahwa mereka adalah satu-satunya dosen di semester itu sehingga masing-masing memberikan tugas yang seabrek banyaknya dan wajib dikumpulkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Kami seringkali menerka apa yang sebetulnya dipikirkan dosen.

"Wah mahasiswa saya pasti sangat bosan, mereka pasti bingung bagaimana menghabiskan waktu luangnya. Kalau saya beri mereka banyak tugas, pasti mereka amat gembira dan berterima kasih pada saya. Ah iya, itu ide yang bagus :)".

"Hmm mahasiswa saya pasti memiliki semangat yang menggebu-gebu dalam menuntut ilmu. Saya tidak boleh membuat mereka kecewa. Baiklah, saya akan memberi mereka tugas yang banyak dan setelah itu saya akan mengadakan post test atau quiz untuk menghibur mereka."

Dan disaat itulah kami mulai berdarah-darah.

Sejak saat itu, jadwal tidur 8 jam/hari terpangkas menjadi paling lama 4 jam/hari atau bahkan 1 jam/hari, tidur sejam juga sekedar "syarat" agar bisa mandi pagi. Gini-gini kita tetap takut kena angin duduk bray :v wkwkwk. Akhirnya seringkali kami "nyolong kesempatan" untuk tidur di kelas (jangan dicontoh gaess). Selain itu jadwal makan pun jadi tak terkontrol. Saya bahkan seringkali sarapan pakai air saja karena harus segera berangkat (T.T). Alhasil kondisi badan pun sering drop, dan sekarang saja post ini saya buat dalam keadaan saya sedang meriang, merindukan kasih sayang, halah. Ya tapi serius, saya di weekend ini malah terbaring lemas setelah menghadapi UTS yang menyita waktu tidur saya (keseringan begadang bray).

Nah ini yang jadi alasan utama saya kenapa jarang ngepost. Pas hari kerja, sibuk kuliah. Pas hari libur, sibuk ngerjain deadline. Hadehh, jadi enggak ada waktu untuk ngepost tulisan di blog. Apalagi waktu buat mikirin kamu, enggak sempat juga...
Kamu, sepatu maksudnya, wk udah satu semester terakhir sepatu-sepatu gak dicuci wkwkwk. Maafkan majikanmu ini ya, hiks hiks.

Yaudah gitu aja sih, gak penting-penting banget kan? Wk
Insya Allah dilanjut lain kali yak!
Terima kasih.

@santoso_rifqi

Rabu, 31 Agustus 2016

Mentari di Penghujung Agustus

Assalamu'alaikum Warahmatullah

Matahari cukup terik tatkala saya menulis postingan kali ini. Saya rasa belum pernah seterik ini, setidaknya semenjak beberapa hari belakangan dimana Jakarta diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga deras mulai ashar hingga waktu isya. Ya, benar kata pepatah, air susu dibalas dengan air tuba. Pepatah itu benar, walaupun saya tidak yakin apa korelasi pepatah tersebut dengan tulisan saya.

Tulisan ini saya kerjakan setelah saya menyelesaikan makan siang, ditemani segelas dingin Nutrisari rasa jeruk nipis, sembari membaca e-book Sherlock Holmes yang sejauh ini saya sudah membaca 4 novel, 12 seri petualangan, 11 seri memoar, dan kini tengah melanjutkan membaca kisah ketiga dari serial Kembalinya Sherlock Holmes. Tidak ada yang istimewa di siang hari ini, kecuali bahwa saya sempat mandi sebelum zhuhur tadi. Cukup istimewa, karena biasanya saya baru mandi menjelang maghrib.

Sekedar info, sebenarnya tidak ada maksud apapun dari tulisan saya kali ini. Tidak ada? Ya, tidak ada. Hebat bukan?

Setidaknya ini yang bisa saya lakukan untuk melepas rindu setelah kurang lebih sebulan saya tidak memposting apapun disini. Kenapa? Karena memang saya rasa belum ada sesuatu hal menarik yang dapat saya paparkan. Mungkin, doakan saja, setelah masuk kuliah akan ada hal² yang dapat saya paparkan kembali.

Terima kasih atas perhatiannya. Maaf sudah membuang 3 menit anda yang berharga. Maaf juga karena judulnya bila tak sesuai isinya, ya saya memang suka mendramatisir sesuatu.

@santoso_rifqi

Jumat, 15 Juli 2016

Nostalgila (?)

Assalamu'alaikum Warahmatullah.
Selamat sore menjelang maghrib.
Di Jum'at yang penuh berkah ini, 10 Syawal 1437 H, izinkan saya mengemukakan apa yang saya kira dapat dikemukakan.

Tadi pagi sekira jam 8 waktu Indonesia bagian hape saya, tak sengaja lewat depan rumahmu, ku melihat ada tenda biru. Hmm, jadi galau saya. Oke, yang sebenarnya adalah pagi tadi saat tengah mencari berita, saya tidak sengaja menemukan film Warkop DKI sedang diputar di salahsatu channel televisi (sebut saja TransTujuh). Mau tak mau walau sebenarnya mau, akhirnya saya menonton film tersebut. Filmnya tetap sama, menggelitik dengan candaan khasnya yang kadang disisipi kritik sosial dan "bumbu-bumbu nakal". Bukan filmnya yang saya persoalkan karena nyatanya saya tidak menontonnya, hanya saja tiba-tiba ingatan saya melanglang jauh ke belakang, ke masa saya belum kenal gadget, belum kenal uang, belum kenal tugas, belum kenal kamu. Hmm. *mikirkeras*

Kira-kira  itu 13 tahun yang lalu, dimana saat itu saya masih kecil, mungil, usil, dan suka nyemilin upil, #ehh. Saya rasa itu adalah masa-masa yang indah untuk saya dan siapapun yang merasakan kanak-kanak di era '90 sampai 2000-an awal. Masa dimana lapangan itu adalah taman bermain yang sesungguhnya, tempat beradu bola, beradu layangan, beradu keong, beradu sarung, beradu petasan, beradu jotos antara satu anak dengan anak lainnya, hehe. Semua terjadi di lapangan dan selesai pula di lapangan. Mungkin anak-anak di generasi sebelum tahun 1990 merasakan masa yang lebih asyik dari saya dan yang segenerasi dengan saya. Namun itu hanya asumsi saya pribadi yang bersifat spekulatif karena saya belum lahir sebelum tahun '90-an, jadi kita skip masalah tersebut.

Betul betul betul saya kangen masa kanak-kanak dulu. Kenapa? Karena anak zaman sekarang mungkin sudah nggak tau itu petak umpet, petak jongkok, bentengan, tok kadal, atau bola bekel ("be"-nya dibaca kayak baca "receh", dan "kel"-nya dibaca kayak baca "lemper"). Sebagian anak zaman sekarang mainannya udah gadget entah itu smartphone,iphone, ipad, komputer, laptop, tablet, kapsul, puyer, dan sejenisnya. Taman bermain? Ya rumah, lebih kecil lagi ya kamarnya. Dunianya segitu aja udah. Lama-lama terbentuklah sikap anti sosial dan individualistis. Harapan saya, semoga anak keturunan saya masih bisa main "di luar" rumah supaya kemampuan sensorik dan motoriknya bisa berfungsi maksimal. Ehm, harapan seorang jomblo.

Setelah membayangkan masa itu, seketika saya berpikir, kapan nikah? Oh tentu tidak. Sebenarnya yang saya pikirkan adalah betapa cepatnya waktu berlalu dan parahnya lagi saya nggak sadar akan hal itu. Dulu, semasa masih betah sedat-sedot ingus di hidung (entah dulu kenapa paling males ngebuang ingus, wk) waktu terasa panjaaaaaaaaaang sepanjang rinduku padamu. Bahkan jam tidur siang terasa seharian padahal cuma dari jam 12.00-15.00 saja, dan seringnya kita cuma pura-pura tidur biar gak kena marah ibu. Hehe, ngaku toh kalian paling males kalau disuruh bobo ciang? Kita berharap waktu cepat berlalu biar bisa segera kabur dari rumah dan main bersama kawan-kawan.

Dulu, keinginan saya itu pengen cepat besar biar gak perlu tidur siang, walau sekarang kangen banget tidur siang. Hmm memang seringkali kita menyadari berharganya sesuatu justru setelah sesuatu itu luput dari kita. Bener kan sob? Gak sia-sia saya makan siang pake asinan.

Mungkin dan memang mungkin, waktu terasa lama salahsatunya adalah karena saya dulu tidak punya kesibukan, selain bermain. Sangat beda dengan sekarang yang semakin hari semakin sibuk, mulai dari kuliah, ngerjain tugas, ikut rapat, ngejar deadline, mikirin kamu,, eh mikirin tugas maksudnya. Hidup jadi monoton. Berlalu begitu saja tanpa ada sesuatu yang berarti. Akhirnya usia kian menua, tubuh kian rapuh, namun kesibukan kian bertambah. Tanpa sadar kita menghabiskan masa muda, demi masa tua katanya, nyatanya masa tuanya malah untuk berobat dan menghabiskan apa yang dahulu dikumpulkan di masa muda. Jadi kurang berarti hidup ini rasanya kalau sekedar itu saja.

Entahlah, selama 13 tahun ini rasanya saya belum berbuat apa-apa. Mungkin terlalu sibuk untuk diri sendiri yang akhirnya mengabaikan hal lain selain saya sendiri.
Entah bagaimana dengan anda, yang pasti dan kita sama-sama sepakati adalah bahwa saya tahu kalau kalian tahu jika saya mengetahui apabila kalian tahu bahwasanya tahun ini merupakan sesudah tahun lalu dan sebelum tahun depan.
Mumet lagi toh?

Sekian corat-coret saya dalam mengisi kekosongan waktu, semoga tidak terlalu membuang-buang waktu anda.

Terima kasih atas perhatiannya dari saya yang butuh perhatian.


Wassalamu'alaikum

#JOSH
#JombloSampaiHalal
@santoso_rifqi

Selasa, 12 Juli 2016

Sepotong Senja di Dalam Kereta


Keren kan judulnya? Tiba-tiba aja gitu muncul di otak saya, ya setidaknya itu membuktikan klo saya punya otak. Oh ya, kali ini saya sedang dalam perjalanan pulang dari pulang kampung. Mumet toh? Gapapa itu artinya anda masih punya otak untuk dimumetin, bersyukur aja :D.

Bukan sombong dan gak bisa disombongin juga, saya balik ke Jakarta (setelah hampir lima hari berada di kampung halaman) dengan naik kereta api kelas ekonomi. Walaupun kelas ekonomi, kereta api sekarang sudah dilengkapi AC sungguhan, Air Conditioner bukan sekedar Angin Cepoy² atau Angin Cepat yang asalnya dari luar kereta. Kinerja pemerintah yang terus memperbaiki sarana dan prasarana publik, dalam hal ini transportasi masa, patut diapresiasi walaupun masih ada kekurangan disana sini menurut saya wajar karena kesempurnaan paripurna hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kereta terus melaju,
meninggalkan semua kenangan masa lalu
sementara aku disini
terduduk lesu, lapar, dan belum mandi
sembari mengarang bebas ala kadarnya.

Satu hal yang saya senang dengan transportasi publik yang satu ini adalah bebas macet, nyaman (untuk sekarang), relatif lebih murah, dan relatif lebih aman dari kecelakaan. Eh itu jadinya empat hal ya? Tak apalah, kalau bisa adil mengapa tidak? *nahloh*.

Setiap kali mudik, saya selalu terkenang masa lalu, disaat kereta belum bisa disebut sebagai transportasi yang "manusiawi" kecuali kelas eksekutif yang dari dulu tetap eksekutif. Mumet lagi? Maaf iseng ngetes aja, masih ada atau enggak otaknya.

Dulu, kelas ekonomi lebih layak diserupakan dengan camp pengungsian. Pengap dan penuh sesak, bahkan sekedar ngupil aja gak bisa karena tangan kita terhimpit badan orang lain, kecuali kalau anda bisa ngupil dengan kaki maka akan beda ceritanya. Masih bercerita masa lalu, untuk kelas ekonomi dan bisnis diberlakukan dua tiket yaitu tiket duduk dan tiket berdiri bahkan kalau "beruntung" anda bisa naik kereta tanpa tiket dengan berdiri di bordes (sambungan antargerbong) atau di toilet dikarenakan membludaknya manusia yang memanfaatkan transportasi ini. Masih terkenang dalam ingatan, dimana dulu naik kereta tatkala ingin kembalk ke Jakarta adalah sebuah perjuangan, apalagi bila menumpang kereta malam. Di lantai kereta pasti sudah bertebaran tubuh-tubuh manusia dengan segala rupa dan bentuknya. Tentu mereka bukan korban pembunuhan massal, ya mereka itulah penumpang tiket berdiri sehingga kalau ingin tidur maka lantai kereta disulap sebagai alas tidurnya. Otomatis bagi yang memiliki tiket duduk harus melangkahi kepala dan tubuh-tubuh yang tergolek lemah di lantai, syukur-syukur gak keinjak.

Ya namun itulah, dibalik kesemrawutannya, ia tetap meninggalkan kenangan indah bagi penggunanya. Setidaknya, saya nanti dapat bersombong-sombong riya dihadapan para cucu tentang transportasi zaman baheula yang "kurang memanusiakan manusia", hehe aneh memang namun setidaknya ada pengalaman yang dapat dibagi dengan harapan supaya mereka yang tidak merasakan "kejahiliyahan" tersebut bisa bersyukur atas kenikmatan dan kemudahan yang mereka terima.

Deretan sawah hijau telah berganti dengan hamparan aspal jalan..
Begitu pula rimbunan pepohonan telah berganti dengan padatnya perumahan...
Pertanda semakin dekat dengan Jakarta, kota Metropolutan dan Metropolitan..

Disini risalah ini berakhir..
Semoga ada hikmah yang dapat diambil, walaupun saya gak yakin ada hikmahnya, tapi tak apalah.

@santoso_rifqi


Senin, 20 Juni 2016

Wanita, Sebuah Post yang Tertunda



  Sketsa ilustrasi yang ane buat (7 Okt '15) 

Assalamu'alaikum.
    Sudah ± 4 bulan ya dari tulisan ane yang terakhir. Sorry sob, ini semua karena kesibukan yang mendera hingga raga ini tak berdaya bila bersua dengan kasur tercinta. Ya tapi seriusan dah semester ini ane bener-bener lebih capek, bayangin aja di semester ini ane tidur sampe nutup mata (aih masa sih masa).
Tapi, Alhamdulillah nih baru aja libur dan karena itu ane bakal mencoba menulis kembali.

"Kok gambarnya cewe sih?"
      Mungkin itu yang terbetik dalam benak kamu, iya kamu (ciee #ketawamanja). Ya karena ane bakal ngomongin sesuatu yang berkaitan dengan gambar tersebut. Yap benar, ane bakal bahas tentang pilpres 2019. Hehe, becanda kok. Ibarat pepatah itu "Bagai katak dalam tempurung" (halah gak nyambung). Sebetulnya ini request dari seorang Nona tatkala kita tengah berbincang berdua dalam sosial media dan terjadilah apa yang terjadi, ya kuota ane habis (T.T). Kita bertukar pikiran, dimana sang Nona (sebut saja Valak *wk, horror*) akhirnya meminta ane untuk membuat tulisan bertema "Wanita", dan karena baru sempat ane buat maka perkenankan ane meminta maaf kepada sang Nona yang tetap setia di masa penantiannya (ahayyy).

       Wanita, makhluk yang diciptakan unik dan merupakan pendamping bagi setiap pria dalam menapaki belantara kehidupan. Di balik rupa yang terkesan lemah, mereka adalah sosok kuat yang mempesona. Siapa lagi yang lebih dapat mengubah haluan seorang lelaki keras selain kelembutan seorang wanita?
Ahh sudahlah, begitu sulit untuk mengetahui wanita seutuhnya, bahkan mungkin butuh seumur hidup untuk bisa mengerti mereka.

       Wanita yang baik, mungkin ada di antara para pembaca (itu juga klo ada yang baca #hopeless) yang tidak setuju dengan ane, adalah wanita yang tidak buruk (masa sih). Wanita baik dalam perspektif manusia macam ane ini adalah wanita yang menjaga dirinya dalam semua hal. Dia menjaga pakaiannya, ucapannya, tingkah lakunya, teman sepergaulannya, bahkan pandangannya. Rasa malu bagi wanita yang baik ibarat perhiasan terindah yang dimilikinya, ane rasa hampir semua pria senang (baca : gemes) dengan wanita yang pemalu apalagi malu untuk berbuat sesuatu yang dilarang syariat agama. 

"Emangnya ada wanita model begitu di zaman sekarang?"
       Ya so pasti ada toh mblo... Tapi yang pasti mereka langka dan terjaga dari serigala-serigala buas yang haus belaian manja (jiaaahhh). Ibarat perhiasan, wanita seperti itu ibarat mutiara di dasar lautan yang tiada bisa didapat melainkan dengan penuh perjuangan, yang tiada mencarinya kecuali mereka yang serius dan mengetahui harganya. Mereka (wanita baik-baik itu) bukanlah bunga yang bisa dihinggapi kumbang-kumbang iseng atau sekedar dipegang-pegang oleh tangan jahil yang mungkin malah dapat mematahkan tangkai bunga tersebut.

"Wah, jadi pengen punya satu nih yang begitu"
        Woy bangun woy, dikata gampang nyari dan dapetinnya? Bukannya mau matahin semangat nte sob, ane kasih tau aja klo wanita baik-baik ya buat pria yang selevel juga baiknya kayak dia. Pantesin diri dulu deh. Bukan ane loh yang asal ngejeplak, beneran ada ayatnya nih ane kasih :

"... dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).."
[QS. An-Nur : 26]

          Ane gak bilang klo ane udah pantes, enggak. Makanya ane ngajak para pembaca (sekali lagi it juga klo ada yang baca) untuk introspeksi diri lagi deh. Jangan sampe ekspektasi kita beda ama realita. Jangan cuma pengen doank tapi enggak ada usaha untuk dapetinnya. Ibarat ngimpi di siang bolong klo kata orang dulu mah (bukan saya loh ya maksudnya).

Inget bray, "JODOH UDAH DIATUR, DEKETIN AJA YANG NGATURNYA." (saikk dah ah).
Yaudah berhubung dah mau ashar, ane udahin dulu dah nulisnya, semoga bermanfaat :)

"Pakde, kapan keluar lagi tulisannya?"
Ya, ane gak bisa janji. Ane gak mau ada janji-janji palsu di antara kita (tsadeees).
Ya tunggu aja dah ya, klo sempet nulis (dan gak mager ntu juga) pasti bakal nulis deh...

Oh ya, untuk sang Nona, ini pelunasan janjiku untuk kamu, iya kamu...

Wassalamu'alaikum.
Salam Olahraga!

Rabu, 03 Februari 2016

Pakde

Assalamu'alaikum.

  Halo, berjumpa lagi dengan saya, Rifqi Prasetyo Santoso. Hmm, kayaknya terlalu canggung bila memakai nama lengkap, baiklah kalian bisa mulai memanggil saya dengan sebutan "Pakde". Loh kok? Apa-apaan ini?! Harap tetap kondusif, yang di tribun atas tolong tenang jangan anarkis *oke ini lebay*. Nah pasti kalian bingung dan bertanya-tanya mengapa saya dipanggil dengan sebutan "Pakde"? Lewat postingan kali ini saya akan mencoba mengetengahkan bahasan mengenai nama panggilan saya ini.

     Semua bermula tatkala saya baru duduk di bangku SMP, karena sebelumnya saya berdiri nggak dapat bangku, hehe. Ya kira-kira baru seminggu saya merasakan indahnya kehidupan SMP, bercengkerama dengan teman-teman baru, sekolah masuk siang (dulu kelas VII masuk siang karena kelas terbatas), punya facebook, bikin basecamp di masjid sekolah,  dan sebagainya. Di kelas, kami mempunyai teman, seorang anak (bukan anaconda tapi) laki-laki yang posturnya agak kecil, lucu, imut, tapi sayang kumisnya lebat, yang kami posisikan dia sebagai "adik kecil" karena postur dan tingkahnya. Suatu hari, saya baru sampai di kelas dan mendekati mereka yang sedang bercanda. Di sana ada dia, sebut saja adeklucutapikumisan yang sedang ikut bercanda. Tatkala melihat saya, si adeklucutapikumisan ini langsung menunjuk saya sambil berkata, "Mau main sama Pakde...". Seketika itu juga teman satu kelas melihat saya sambil tertawa. Dan mulai detik itu pula nama "Pakde" melekat pada diri saya.

    Awalnya, hanya teman sekelas saja yang menyebut dengan sebutan "Pakde". Namun akhirnya hal itu menyebar ke seantero sekolah bahkan sampai beberapa guru pun memanggil saya dengan sebutan "Pakde". Kayaknya asyik punya nama panggilan jadi bisa dikenal orang, namun ironisnya ternyata nggak ada yang tahu nama asli saya selain teman yang sekelas/pernah sekelas dengan saya. Sampai pernah pas ibu saya ke sekolah untuk mengambil raport, beliau sempat kebingungan mencari kelas saya sampai bertanya pada beberapa anak,

"Dek, maaf mau tanya. Kalo kelas VII-1 dimana ya?", tanya ibu saya.

"Kelas VII-1? Dimana ya? Kalo boleh tau kelasnya siapa, Bu?", tanya salahsatu anak.

"Kelasnya Rifqi Prasetyo Santoso, adek kenal gak?".

"Rifqi? Rifqi siapa ya?", mereka saling bertatapan bingung.

"Kelasnya 'Pakde'.", kata ibu saya yang sebelumnya pernah saya ceritakan tentang panggilan ajaib buat anaknya ini.

"Oooh ibunya Pakde toh..."

"Mari bu sini saya anterin", tawar salahsatu di antara mereka sambil tersenyum.

"...", ibu saya heran.

Akhirnya nama itu benar-benar melekat pada diri saya sampai sekarang di bangku kuliah (temen kuliah manggil Pakde juga -_-").

    Sekian dulu untuk postingan kedua saya kali ini. Mungkin masih banyak kekurangan di sana-sini, harap maklum karena ini kali pertama saya nulis bebas setelah sebelumnya vacum selama 5 tahun. Oleh karena itu saya mohon kritik dan sarannya. Hehe.

Selamat bertemu dipostingan saya selanjutnya.
Terima kasih.

Wassalamu'alaikum.

Selasa, 02 Februari 2016

Saya Siapa?

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, akhirnya bisa punya blog juga hahaha.