Selasa, 12 Juli 2016

Sepotong Senja di Dalam Kereta


Keren kan judulnya? Tiba-tiba aja gitu muncul di otak saya, ya setidaknya itu membuktikan klo saya punya otak. Oh ya, kali ini saya sedang dalam perjalanan pulang dari pulang kampung. Mumet toh? Gapapa itu artinya anda masih punya otak untuk dimumetin, bersyukur aja :D.

Bukan sombong dan gak bisa disombongin juga, saya balik ke Jakarta (setelah hampir lima hari berada di kampung halaman) dengan naik kereta api kelas ekonomi. Walaupun kelas ekonomi, kereta api sekarang sudah dilengkapi AC sungguhan, Air Conditioner bukan sekedar Angin Cepoy² atau Angin Cepat yang asalnya dari luar kereta. Kinerja pemerintah yang terus memperbaiki sarana dan prasarana publik, dalam hal ini transportasi masa, patut diapresiasi walaupun masih ada kekurangan disana sini menurut saya wajar karena kesempurnaan paripurna hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kereta terus melaju,
meninggalkan semua kenangan masa lalu
sementara aku disini
terduduk lesu, lapar, dan belum mandi
sembari mengarang bebas ala kadarnya.

Satu hal yang saya senang dengan transportasi publik yang satu ini adalah bebas macet, nyaman (untuk sekarang), relatif lebih murah, dan relatif lebih aman dari kecelakaan. Eh itu jadinya empat hal ya? Tak apalah, kalau bisa adil mengapa tidak? *nahloh*.

Setiap kali mudik, saya selalu terkenang masa lalu, disaat kereta belum bisa disebut sebagai transportasi yang "manusiawi" kecuali kelas eksekutif yang dari dulu tetap eksekutif. Mumet lagi? Maaf iseng ngetes aja, masih ada atau enggak otaknya.

Dulu, kelas ekonomi lebih layak diserupakan dengan camp pengungsian. Pengap dan penuh sesak, bahkan sekedar ngupil aja gak bisa karena tangan kita terhimpit badan orang lain, kecuali kalau anda bisa ngupil dengan kaki maka akan beda ceritanya. Masih bercerita masa lalu, untuk kelas ekonomi dan bisnis diberlakukan dua tiket yaitu tiket duduk dan tiket berdiri bahkan kalau "beruntung" anda bisa naik kereta tanpa tiket dengan berdiri di bordes (sambungan antargerbong) atau di toilet dikarenakan membludaknya manusia yang memanfaatkan transportasi ini. Masih terkenang dalam ingatan, dimana dulu naik kereta tatkala ingin kembalk ke Jakarta adalah sebuah perjuangan, apalagi bila menumpang kereta malam. Di lantai kereta pasti sudah bertebaran tubuh-tubuh manusia dengan segala rupa dan bentuknya. Tentu mereka bukan korban pembunuhan massal, ya mereka itulah penumpang tiket berdiri sehingga kalau ingin tidur maka lantai kereta disulap sebagai alas tidurnya. Otomatis bagi yang memiliki tiket duduk harus melangkahi kepala dan tubuh-tubuh yang tergolek lemah di lantai, syukur-syukur gak keinjak.

Ya namun itulah, dibalik kesemrawutannya, ia tetap meninggalkan kenangan indah bagi penggunanya. Setidaknya, saya nanti dapat bersombong-sombong riya dihadapan para cucu tentang transportasi zaman baheula yang "kurang memanusiakan manusia", hehe aneh memang namun setidaknya ada pengalaman yang dapat dibagi dengan harapan supaya mereka yang tidak merasakan "kejahiliyahan" tersebut bisa bersyukur atas kenikmatan dan kemudahan yang mereka terima.

Deretan sawah hijau telah berganti dengan hamparan aspal jalan..
Begitu pula rimbunan pepohonan telah berganti dengan padatnya perumahan...
Pertanda semakin dekat dengan Jakarta, kota Metropolutan dan Metropolitan..

Disini risalah ini berakhir..
Semoga ada hikmah yang dapat diambil, walaupun saya gak yakin ada hikmahnya, tapi tak apalah.

@santoso_rifqi


1 komentar:

  1. Keren tulisannya ki, sering2 post yg kaya gini, ane seneng bacanya wkwkwk berarti harus sering2 naik kereta juga (?)

    BalasHapus