Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahi
wahdahu, washshalatu wassalamu ‘ala man la nabiyya ba’dahu, nabiyyina muhammadin
wa ’ala alihi wa shahbihi wa ba’du. Segala puji hanya milik Allah ﷻ semata, dan shalawat serta salam semoga
tercurahkan kepada seseorang yang tiada Nabi lagi setelahnya, yaitu Nabi kita
Muhammad ﷺ beserta keluarga
serta sahabatnya. Jumu’ah Mubarak, di hari Jum’at yang
penuh keberkahan ini mari kita memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ,
jangan lupa baca pula QS. Al-Kahf sebagai upaya menghidupkan kembali diantara
sunnah-sunnah beliau ﷺ yang mulai ditinggalkan. Rasulullah ﷺ
bersabda,
من قرأ سورة الكهف ليلة الجمعة أضاء له من النور فيما بينه و بين
البيت العتيق
“Barangsiapa yang membaca surat al-Kahf pada malam Jum’at, dia
akan disinari cahaya antara dirinya dan Bait al-‘Atiq (Ka’bah).” [HR.
ad-Darimi no.3470 dan dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul
Jami’ no.6471]
من قرأ سورة الكهف في
يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين
“Barangsiapa yang membaca surat
al-Kahf pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.”
[HR. al-Hakim no.6169, al-Baihaqi no.635 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullahu
dalam Shahihul Jami’ no.6470]
Pukul 08.52 WIB, adzan Zhuhur pada
hari ini tercatat pukul 11.59 WIB, masih sekitar 3 jam lebih beberapa menit
tersisa sebelum waktu Zhuhur tiba. Mari manfaatkan waktu untuk hal-hal bermanfaat,
bisa dengan tilawah atau membaca buku atau mendengar murattal atau muraja’ah
hapalan atau bisa juga dengan mandi Jum’at kemudian bersuci dan memakai pakaian
terbaik dan wewangian kemudian bergegas pergi ke masjid dan melaksanakan shalat
sunnah mutlak hingga khatib naik mimbar. Mari biasakan mengisi waktu dengan
kebaikan.
Kalau kata pepatah Jawa, “witing
tresna jalaran saka kulina, witing mulya jalaran wani rekasa (cinta tumbuh
sebab terbiasa, mulia tumbuh sebab berani susah)”. Kalau kita membiasakan
hal yang baik, memang terkesan berat di awal bahkan tak luput dari celaan orang
banyak, lambat laun kita akan cinta dengan kebiasaan baik tersebut bahkan
kebiasaan itu Insya Allah akan melekat dalam pribadi kita. Ingat mas/mbak,
istiqamah tuh memang berat, kalau ringan namanya istirahat, nah kalau istimewa
ya kamu itu, pakai telor dua.
“Istiqamah (al-istiqaamah) menurut
bahasa diambil dari kata istiqaama-yastaqiimu-istiqaamah yang artinya adalah al-I’tidaal
(lurus). Menurut istilah syar’i, istiqamah artinya meniti jalan yang lurus yang
tidak lain adalah agama yang lurus (Islam), tidak menyimpang ke kanan atau ke
kiri. Istiqamah mencakup melakukan seluruh ketaatan, yang terlihat dan
tersembunyi dan meninggalkan seluruh yang dilarang (lihat kitab Jami’ul ‘Ulum
wal Hikam, I/510)”.
[Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullahu dalam buku Istiqamah,
Konsekuen & Konsisten Menetapi Jalan Ketaatan, hal. 17, Pustaka
At-Taqwa]
Istiqamah
yaitu menetapkan diri atau mempertahankan diri agar tetap teguh di atas
kebaikan dan jalan yang lurus. Berat memang karena untuk tetap istiqamah kita
akan diuji sesuai dengan kadar keistiqamahan kita. Ibarat pepatah, “Semakin tinggi
pohon, semakin besar angin yang menerpa”, maka semakin kita berusaha untuk
istiqamah semakin berat pula ujian yang akan kita hadapi baik dari luar maupun
dari dalam diri sendiri. Dari dalam? Iya, dari diri kita sendiri. Ada kalanya
ketika kita mencoba untuk istiqamah, justru diri kita mengingat-ingat lagi kesenangan
maksiat yang dulu dikerjakan, kemudian setan menghiasi pikiran kita dengan
angan-angan semu dan membisikkan bahwa istiqamah itu berat dan sulit hingga
terbetik dalam hatinya untuk kembali melakukan maksiat tersebut. Untuk itulah mengapa
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullahu, sebagaimana dinukil oleh Imam
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullahu dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam,
senantiasa berdoa, “Allaahumma anta rabbunaa, farzuqnal istiqaamah (Ya
Allah, Engkau adalah Rabb kami, maka berikanlah kepada kami ke-istiqamah-an)”.
Istiqamah adalah perkara yang amat
penting, bahkan kita diperintahkan untuk memintanya paling sedikit 17 kali
sehari semalam, yaitu dalam shalat kita dimana apabila tidak kita baca maka
tidak sah shalat kita,
اهد نا الصراط المستقيم
“Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus”. [QS. Al-Fatihah : 6]
Kemudian mungkin kita berpikir,“Kita
sudah tahu apa itu istiqamah, lalu bagaimana cara agar tetap dapat istiqamah?”.
Maka hal tersebut sudah dipaparkan panjang lebar dalam banyak kajian ilmu atau
buku atau artikel oleh para masyaikh dan asatidz kita, sebagaimana bisa dilihat
di https://muslimafiyah.com/kiat-menggapai-istiqamah.html
atau bisa juga https://almanhaj.or.id/4134-keutamaan-istiqomah.html
atau kalau ingin lebih banyak bisa dilihat di https://yufid.com
dengan keyword “kiat istiqamah” atau yang semisalnya.
Saya
tidak akan mengurai panjang lebar disini karena hal tersebut sudah banyak
diulas oleh para ustadz, lengkap dengan pembahasan dalil dan penjelasan para
Salaful Ummah. Ini juga dikarenakan keterbatasan waktu dan ilmu yang saya
miliki, saya melalui artikel ini hanya sedikit memberikan gambaran tentang
istiqamah. Maka saya berdoa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, semoga Allah
senantiasa mengistiqamahkan kita semua di atas jalan kebaikan sebagaimana
Rasulullah ﷺ juga senantiasa berdoa dengan doa beliau,
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
“Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan
Hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.” [HR. at-Tirmidzi no.3522]
“Sesungguhnya karamah (seorang wali
Allah) adalah bisa terus istiqamah”.
[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu,
Majmu’ah al-Fatawa, 10:29]
Jakarta, 4 Agustus 2017
@santoso_rifqi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar