Jumat, 04 Agustus 2017

Istiqamah



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahi wahdahu, washshalatu wassalamu ‘ala man la nabiyya ba’dahu, nabiyyina muhammadin wa ’ala alihi wa shahbihi wa ba’du. Segala puji hanya milik Allah semata, dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada seseorang yang tiada Nabi lagi setelahnya, yaitu Nabi kita Muhammad beserta keluarga serta sahabatnya. Jumu’ah Mubarak, di hari Jum’at yang penuh keberkahan ini mari kita memperbanyak shalawat kepada Rasulullah , jangan lupa baca pula QS. Al-Kahf sebagai upaya menghidupkan kembali diantara sunnah-sunnah beliau yang mulai ditinggalkan. Rasulullah bersabda,

من قرأ سورة الكهف ليلة الجمعة أضاء له من النور فيما بينه و بين البيت العتيق
“Barangsiapa yang membaca surat al-Kahf pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Bait al-‘Atiq (Ka’bah).” [HR. ad-Darimi no.3470 dan dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no.6471]

من قرأ سورة الكهف في يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين
Barangsiapa yang membaca surat al-Kahf pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” [HR. al-Hakim no.6169, al-Baihaqi no.635 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no.6470]

Pukul 08.52 WIB, adzan Zhuhur pada hari ini tercatat pukul 11.59 WIB, masih sekitar 3 jam lebih beberapa menit tersisa sebelum waktu Zhuhur tiba. Mari manfaatkan waktu untuk hal-hal bermanfaat, bisa dengan tilawah atau membaca buku atau mendengar murattal atau muraja’ah hapalan atau bisa juga dengan mandi Jum’at kemudian bersuci dan memakai pakaian terbaik dan wewangian kemudian bergegas pergi ke masjid dan melaksanakan shalat sunnah mutlak hingga khatib naik mimbar. Mari biasakan mengisi waktu dengan kebaikan.
Kalau kata pepatah Jawa, “witing tresna jalaran saka kulina, witing mulya jalaran wani rekasa (cinta tumbuh sebab terbiasa, mulia tumbuh sebab berani susah)”. Kalau kita membiasakan hal yang baik, memang terkesan berat di awal bahkan tak luput dari celaan orang banyak, lambat laun kita akan cinta dengan kebiasaan baik tersebut bahkan kebiasaan itu Insya Allah akan melekat dalam pribadi kita. Ingat mas/mbak, istiqamah tuh memang berat, kalau ringan namanya istirahat, nah kalau istimewa ya kamu itu, pakai telor dua.

“Istiqamah (al-istiqaamah) menurut bahasa diambil dari kata istiqaama-yastaqiimu-istiqaamah yang artinya adalah al-I’tidaal (lurus). Menurut istilah syar’i, istiqamah artinya meniti jalan yang lurus yang tidak lain adalah agama yang lurus (Islam), tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Istiqamah mencakup melakukan seluruh ketaatan, yang terlihat dan tersembunyi dan meninggalkan seluruh yang dilarang (lihat kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, I/510)”. [Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullahu dalam buku Istiqamah, Konsekuen & Konsisten Menetapi Jalan Ketaatan, hal. 17, Pustaka At-Taqwa]


   Istiqamah yaitu menetapkan diri atau mempertahankan diri agar tetap teguh di atas kebaikan dan jalan yang lurus. Berat memang karena untuk tetap istiqamah kita akan diuji sesuai dengan kadar keistiqamahan kita. Ibarat pepatah, “Semakin tinggi pohon, semakin besar angin yang menerpa”, maka semakin kita berusaha untuk istiqamah semakin berat pula ujian yang akan kita hadapi baik dari luar maupun dari dalam diri sendiri. Dari dalam? Iya, dari diri kita sendiri. Ada kalanya ketika kita mencoba untuk istiqamah, justru diri kita mengingat-ingat lagi kesenangan maksiat yang dulu dikerjakan, kemudian setan menghiasi pikiran kita dengan angan-angan semu dan membisikkan bahwa istiqamah itu berat dan sulit hingga terbetik dalam hatinya untuk kembali melakukan maksiat tersebut. Untuk itulah mengapa Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullahu, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullahu dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, senantiasa berdoa, “Allaahumma anta rabbunaa, farzuqnal istiqaamah (Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami, maka berikanlah kepada kami ke-istiqamah-an)”.
Istiqamah adalah perkara yang amat penting, bahkan kita diperintahkan untuk memintanya paling sedikit 17 kali sehari semalam, yaitu dalam shalat kita dimana apabila tidak kita baca maka tidak sah shalat kita,
اهد نا الصراط المستقيم
“Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus”. [QS. Al-Fatihah : 6]

Kemudian mungkin kita berpikir,“Kita sudah tahu apa itu istiqamah, lalu bagaimana cara agar tetap dapat istiqamah?”. Maka hal tersebut sudah dipaparkan panjang lebar dalam banyak kajian ilmu atau buku atau artikel oleh para masyaikh dan asatidz kita, sebagaimana bisa dilihat di https://muslimafiyah.com/kiat-menggapai-istiqamah.html atau bisa juga https://almanhaj.or.id/4134-keutamaan-istiqomah.html atau kalau ingin lebih banyak bisa dilihat di https://yufid.com dengan keyword “kiat istiqamah” atau yang semisalnya.

   Saya tidak akan mengurai panjang lebar disini karena hal tersebut sudah banyak diulas oleh para ustadz, lengkap dengan pembahasan dalil dan penjelasan para Salaful Ummah. Ini juga dikarenakan keterbatasan waktu dan ilmu yang saya miliki, saya melalui artikel ini hanya sedikit memberikan gambaran tentang istiqamah. Maka saya berdoa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, semoga Allah senantiasa mengistiqamahkan kita semua di atas jalan kebaikan sebagaimana Rasulullah juga senantiasa berdoa dengan doa beliau,
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
“Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan Hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.” [HR. at-Tirmidzi no.3522]

“Sesungguhnya karamah (seorang wali Allah) adalah bisa terus istiqamah”.
[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu, Majmu’ah al-Fatawa, 10:29]


Jakarta, 4 Agustus 2017
@santoso_rifqi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar