Kamis, 03 Agustus 2017

Mari Membaca



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

                Dua belas lewat lima puluh tujuh menit, tiga menit menjelang pukul satu siang. Cuaca Jakarta tetap panas dengan suhu 31º, cukup terik sehingga bisa membuat air di dalam toren menjadi hangat. Saking panasnya, tikus di dapur berdecit, mungkin karena panas atau mungkin karena lapar. Oh ya, semalam ada tikus yang terkena jebakan lem dan terperangkap hingga sekarang di dapur. Satu lagi hal tidak penting yang kalian ketahui di siang ini. 
                Siang ini sangat sepi, sebagaimana siang-siang sebelumnya. Hanya suara kipas, sesekali terdengar suara notifikasi wa atau line, kadang lewat tukang batagor hingga tukang tape, suara ibu memanggil anaknya pulang, suara anak kecil berlarian, suara bapak-bapak ngobrol, lah jadi rame, heran. Ekspektasi memang kadang tak sesuai realita, mau mengisahkan hari yang sepi, malah rame ternyata.
                Satu lewat dua puluh tiga menit, baru dua paragraf disana. Tiga puluh menit habis hanya sekedar untuk menata kata dan mencari inspirasi tulisan. Menulis memang tak semudah kelihatannya. Kita takjub dengan para penulis yang sepertinya mudah bagi mereka menulis buku itu bahkan ada yang hingga berjilid-jilid. Kita takjub, kemudian kita mencoba untuk menulis, ternyata sulit kita rasa. Sulit mencari tema, sulit menyusun diksi, sulit menuangkan opini, sulit meyakinkan dirinya, dan semua hal yang akhirnya membuat kita menyerah untuk menulis. Kita mungkin mempunyai banyak buku bacaan di rumah, walaupun sebagian besarnya adalah buku materi sekolah yang hanya dibaca ketika ada tugas atau ketika mau ulangan atau dibuka sekedar formalitas di depan orang tua, saya tahu karena saya pelakunya. Itu masalahnya, kita jarang membaca. Akhirnya kamus kosakata kita miskin, itu sebabnya kenapa kita kesulitan memilih kata dan menyusun diksi kalimat.
                Membaca, sebenarnya di zaman sekarang ini saya pribadi yakin minat baca masyarakat, khususnya generasi muda, cukup tinggi. Masalahnya, yang menjadi bahan bacaan kebanyakan adalah status-status di media sosial yang umumnya berisi curhatan pemilik akun, dengan bahasa yang jauh dari kata baku bahkan dengan struktur penulisan kata yang terdiri dari kombinasi huruf dan angka yang jamak kita kenal dengan huruf alay. Bahan bacaan lain, masih dari sosial media, yang banyak digandrungi adalah status berisi berita hoax/palsu atau lebih parah status yang memerintahkan untuk like-comment-share kemudian yang melakukannya diiming-imingi masuk surga atau kalau tidak maka dapat adzab. Hal ini yang menurut saya pribadi menjadikan kita miskin kosakata. Tidak semua memang, ada di antara akun-akun sosial media yang masih memposting status berisi berita akurat, dengan pemilihan kata yang tepat, tapi jumlahnya tak banyak.
                Membaca buku, itu mungkin salahsatu opsi yang dapat dilakukan untuk menambah koleksi kosakata dan juga khazanah keilmuan kita. Cobalah kita membaca buku-buku umpama karangan Buya Hamka, kita akan mendapati banyak sekali kosakata yang mungkin baru kali pertama kita dengar. Selain itu dengan membaca kita dapat belajar bagaimana cara menyusun diksi kalimat dengan tepat, bagaimana cara memilih gaya bahasa dalam tulisan, dan lain sebagainya. Zaman semakin mudah, bila tak sanggup untuk memiliki cetakan bukunya, kita bisa mendapatkan buku-buku tersebut dalam versi ebook atau pdf-nya. Tapi tentu saja, godaan membaca versi ebook lebih besar dibanding dengan membaca cetakan asli bukunya, yang tadinya fokus membaca lama kelamaan mungkin melipir jadi buka sosial media dan sebagainya, ya mungkin bisa diatasi dengan memasang smartphone dalam mode pesawat selagi kita membaca.
                Dua lewat tiga belas menit, sudah satu jam rupanya dan apa yang saya tulis masih beberapa paragraf saja. Saya semakin takjub dengan kisah pendahulu kita yang amat gigih dalam menulis dan menelurkan karya. Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu yang menyusun kitab al ‘Aqidah al Wasithiyah hanya dalam sekali jalsah (duduk) yaitu selepas shalat Ashar, atau kisah Imam an Nawawi rahimahullahu yang beliau akan terus menulis kitab hingga tangan beliau kaku baru setelah itu beliau terpaksa meletakkan pena-nya, atau Imam Bukhari yang senantiasa menulis sehingga makanpun beliau disuapi karena tidak mau berhenti menulis, atau kisah-kisah lainnya. Hasilnya, kita sekarang bisa melihat kitab-kitab mereka yang dalam satu judul saja bisa berjilid banyaknya dan satu jilid kitab mereka tebalnya bisa lebih dari 500 halaman. Padahal, diantara mereka ada yang umurnya hanya sampai sekitar 40 tahun, ada yang 50, banyak yang hingga 60 tahun, dan sedikit diantara mereka yang lebih dari itu. Usia mereka berkah, sehingga mereka bisa meninggalkan karya tulis yang banyak bahkan diantaranya masih ada yang berbentuk manuskrip atau yang belum selesai ditulis.
                Kita mungkin belum bisa “se-ekstrem” mereka dalam menulis dan membaca, tapi mari kita teladani kegigihan mereka, bukan tidak mungkin suatu hari nanti kita bisa memiliki kesungguhan seperti mereka. Selain itu, mari kita latih diri kita untuk menulis dari sekarang, bisa dalam bentuk menulis di buku harian, menulis quotes singkat, menulis diblog pribadi, menulis namaku di hatimu, atau apa saja yang dapat melatih kita dalam menulis asalkan itu positif dan kita bertanggung jawab atasnya.

Jakarta, 3 Agustus 2017
@santoso_rifqi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar