Assalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh
Dua belas lewat lima puluh tujuh
menit, tiga menit menjelang pukul satu siang. Cuaca Jakarta tetap panas dengan
suhu 31º, cukup terik sehingga bisa membuat air di dalam toren menjadi hangat.
Saking panasnya, tikus di dapur berdecit, mungkin karena panas atau mungkin
karena lapar. Oh ya, semalam ada tikus yang terkena jebakan lem dan
terperangkap hingga sekarang di dapur. Satu lagi hal tidak penting yang kalian
ketahui di siang ini.
Siang ini sangat sepi, sebagaimana
siang-siang sebelumnya. Hanya suara kipas, sesekali terdengar suara notifikasi
wa atau line, kadang lewat tukang batagor hingga tukang tape, suara ibu
memanggil anaknya pulang, suara anak kecil berlarian, suara bapak-bapak
ngobrol, lah jadi rame, heran. Ekspektasi memang kadang tak sesuai realita, mau
mengisahkan hari yang sepi, malah rame ternyata.
Satu lewat dua puluh tiga menit,
baru dua paragraf disana. Tiga puluh menit habis hanya sekedar untuk menata
kata dan mencari inspirasi tulisan. Menulis memang tak semudah kelihatannya. Kita
takjub dengan para penulis yang sepertinya mudah bagi mereka menulis buku itu
bahkan ada yang hingga berjilid-jilid. Kita takjub, kemudian kita mencoba untuk
menulis, ternyata sulit kita rasa. Sulit mencari tema, sulit menyusun diksi,
sulit menuangkan opini, sulit meyakinkan dirinya, dan semua hal yang akhirnya
membuat kita menyerah untuk menulis. Kita mungkin mempunyai banyak buku bacaan
di rumah, walaupun sebagian besarnya adalah buku materi sekolah yang hanya dibaca
ketika ada tugas atau ketika mau ulangan atau dibuka sekedar formalitas di
depan orang tua, saya tahu karena saya pelakunya. Itu masalahnya, kita jarang
membaca. Akhirnya kamus kosakata kita miskin, itu sebabnya kenapa kita
kesulitan memilih kata dan menyusun diksi kalimat.
Membaca, sebenarnya di zaman
sekarang ini saya pribadi yakin minat baca masyarakat, khususnya generasi muda,
cukup tinggi. Masalahnya, yang menjadi bahan bacaan kebanyakan adalah
status-status di media sosial yang umumnya berisi curhatan pemilik akun, dengan
bahasa yang jauh dari kata baku bahkan dengan struktur penulisan kata yang
terdiri dari kombinasi huruf dan angka yang jamak kita kenal dengan huruf alay.
Bahan bacaan lain, masih dari sosial media, yang banyak digandrungi adalah status
berisi berita hoax/palsu atau lebih parah status yang memerintahkan untuk
like-comment-share kemudian yang melakukannya diiming-imingi masuk surga atau
kalau tidak maka dapat adzab. Hal ini yang menurut saya pribadi menjadikan kita
miskin kosakata. Tidak semua memang, ada di antara akun-akun sosial media yang
masih memposting status berisi berita akurat, dengan pemilihan kata yang tepat,
tapi jumlahnya tak banyak.
Membaca buku, itu mungkin
salahsatu opsi yang dapat dilakukan untuk menambah koleksi kosakata dan juga
khazanah keilmuan kita. Cobalah kita membaca buku-buku umpama karangan Buya
Hamka, kita akan mendapati banyak sekali kosakata yang mungkin baru kali
pertama kita dengar. Selain itu dengan membaca kita dapat belajar bagaimana
cara menyusun diksi kalimat dengan tepat, bagaimana cara memilih gaya bahasa
dalam tulisan, dan lain sebagainya. Zaman semakin mudah, bila tak sanggup untuk
memiliki cetakan bukunya, kita bisa mendapatkan buku-buku tersebut dalam versi
ebook atau pdf-nya. Tapi tentu saja, godaan membaca versi ebook lebih besar
dibanding dengan membaca cetakan asli bukunya, yang tadinya fokus membaca lama
kelamaan mungkin melipir jadi buka sosial media dan sebagainya, ya mungkin bisa
diatasi dengan memasang smartphone dalam mode pesawat selagi kita membaca.
Dua lewat tiga belas menit,
sudah satu jam rupanya dan apa yang saya tulis masih beberapa paragraf saja. Saya
semakin takjub dengan kisah pendahulu kita yang amat gigih dalam menulis dan
menelurkan karya. Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu
yang menyusun kitab al ‘Aqidah al Wasithiyah hanya dalam sekali jalsah
(duduk) yaitu selepas shalat Ashar, atau kisah Imam an Nawawi rahimahullahu
yang beliau akan terus menulis kitab hingga tangan beliau kaku baru setelah itu
beliau terpaksa meletakkan pena-nya, atau Imam Bukhari yang senantiasa menulis
sehingga makanpun beliau disuapi karena tidak mau berhenti menulis, atau
kisah-kisah lainnya. Hasilnya, kita sekarang bisa melihat kitab-kitab mereka
yang dalam satu judul saja bisa berjilid banyaknya dan satu jilid kitab mereka
tebalnya bisa lebih dari 500 halaman. Padahal, diantara mereka ada yang umurnya
hanya sampai sekitar 40 tahun, ada yang 50, banyak yang hingga 60 tahun, dan
sedikit diantara mereka yang lebih dari itu. Usia mereka berkah, sehingga
mereka bisa meninggalkan karya tulis yang banyak bahkan diantaranya masih ada
yang berbentuk manuskrip atau yang belum selesai ditulis.
Kita mungkin belum bisa
“se-ekstrem” mereka dalam menulis dan membaca, tapi mari kita teladani
kegigihan mereka, bukan tidak mungkin suatu hari nanti kita bisa memiliki
kesungguhan seperti mereka. Selain itu, mari kita latih diri kita untuk menulis
dari sekarang, bisa dalam bentuk menulis di buku harian, menulis quotes
singkat, menulis diblog pribadi, menulis namaku di hatimu, atau apa saja yang
dapat melatih kita dalam menulis asalkan itu positif dan kita bertanggung jawab
atasnya.
Jakarta, 3
Agustus 2017
@santoso_rifqi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar