Jumat, 04 Agustus 2017

Istiqamah



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahi wahdahu, washshalatu wassalamu ‘ala man la nabiyya ba’dahu, nabiyyina muhammadin wa ’ala alihi wa shahbihi wa ba’du. Segala puji hanya milik Allah semata, dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada seseorang yang tiada Nabi lagi setelahnya, yaitu Nabi kita Muhammad beserta keluarga serta sahabatnya. Jumu’ah Mubarak, di hari Jum’at yang penuh keberkahan ini mari kita memperbanyak shalawat kepada Rasulullah , jangan lupa baca pula QS. Al-Kahf sebagai upaya menghidupkan kembali diantara sunnah-sunnah beliau yang mulai ditinggalkan. Rasulullah bersabda,

من قرأ سورة الكهف ليلة الجمعة أضاء له من النور فيما بينه و بين البيت العتيق
“Barangsiapa yang membaca surat al-Kahf pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Bait al-‘Atiq (Ka’bah).” [HR. ad-Darimi no.3470 dan dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no.6471]

من قرأ سورة الكهف في يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين
Barangsiapa yang membaca surat al-Kahf pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” [HR. al-Hakim no.6169, al-Baihaqi no.635 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no.6470]

Pukul 08.52 WIB, adzan Zhuhur pada hari ini tercatat pukul 11.59 WIB, masih sekitar 3 jam lebih beberapa menit tersisa sebelum waktu Zhuhur tiba. Mari manfaatkan waktu untuk hal-hal bermanfaat, bisa dengan tilawah atau membaca buku atau mendengar murattal atau muraja’ah hapalan atau bisa juga dengan mandi Jum’at kemudian bersuci dan memakai pakaian terbaik dan wewangian kemudian bergegas pergi ke masjid dan melaksanakan shalat sunnah mutlak hingga khatib naik mimbar. Mari biasakan mengisi waktu dengan kebaikan.
Kalau kata pepatah Jawa, “witing tresna jalaran saka kulina, witing mulya jalaran wani rekasa (cinta tumbuh sebab terbiasa, mulia tumbuh sebab berani susah)”. Kalau kita membiasakan hal yang baik, memang terkesan berat di awal bahkan tak luput dari celaan orang banyak, lambat laun kita akan cinta dengan kebiasaan baik tersebut bahkan kebiasaan itu Insya Allah akan melekat dalam pribadi kita. Ingat mas/mbak, istiqamah tuh memang berat, kalau ringan namanya istirahat, nah kalau istimewa ya kamu itu, pakai telor dua.

“Istiqamah (al-istiqaamah) menurut bahasa diambil dari kata istiqaama-yastaqiimu-istiqaamah yang artinya adalah al-I’tidaal (lurus). Menurut istilah syar’i, istiqamah artinya meniti jalan yang lurus yang tidak lain adalah agama yang lurus (Islam), tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Istiqamah mencakup melakukan seluruh ketaatan, yang terlihat dan tersembunyi dan meninggalkan seluruh yang dilarang (lihat kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, I/510)”. [Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullahu dalam buku Istiqamah, Konsekuen & Konsisten Menetapi Jalan Ketaatan, hal. 17, Pustaka At-Taqwa]


   Istiqamah yaitu menetapkan diri atau mempertahankan diri agar tetap teguh di atas kebaikan dan jalan yang lurus. Berat memang karena untuk tetap istiqamah kita akan diuji sesuai dengan kadar keistiqamahan kita. Ibarat pepatah, “Semakin tinggi pohon, semakin besar angin yang menerpa”, maka semakin kita berusaha untuk istiqamah semakin berat pula ujian yang akan kita hadapi baik dari luar maupun dari dalam diri sendiri. Dari dalam? Iya, dari diri kita sendiri. Ada kalanya ketika kita mencoba untuk istiqamah, justru diri kita mengingat-ingat lagi kesenangan maksiat yang dulu dikerjakan, kemudian setan menghiasi pikiran kita dengan angan-angan semu dan membisikkan bahwa istiqamah itu berat dan sulit hingga terbetik dalam hatinya untuk kembali melakukan maksiat tersebut. Untuk itulah mengapa Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullahu, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullahu dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, senantiasa berdoa, “Allaahumma anta rabbunaa, farzuqnal istiqaamah (Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami, maka berikanlah kepada kami ke-istiqamah-an)”.
Istiqamah adalah perkara yang amat penting, bahkan kita diperintahkan untuk memintanya paling sedikit 17 kali sehari semalam, yaitu dalam shalat kita dimana apabila tidak kita baca maka tidak sah shalat kita,
اهد نا الصراط المستقيم
“Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus”. [QS. Al-Fatihah : 6]

Kemudian mungkin kita berpikir,“Kita sudah tahu apa itu istiqamah, lalu bagaimana cara agar tetap dapat istiqamah?”. Maka hal tersebut sudah dipaparkan panjang lebar dalam banyak kajian ilmu atau buku atau artikel oleh para masyaikh dan asatidz kita, sebagaimana bisa dilihat di https://muslimafiyah.com/kiat-menggapai-istiqamah.html atau bisa juga https://almanhaj.or.id/4134-keutamaan-istiqomah.html atau kalau ingin lebih banyak bisa dilihat di https://yufid.com dengan keyword “kiat istiqamah” atau yang semisalnya.

   Saya tidak akan mengurai panjang lebar disini karena hal tersebut sudah banyak diulas oleh para ustadz, lengkap dengan pembahasan dalil dan penjelasan para Salaful Ummah. Ini juga dikarenakan keterbatasan waktu dan ilmu yang saya miliki, saya melalui artikel ini hanya sedikit memberikan gambaran tentang istiqamah. Maka saya berdoa kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, semoga Allah senantiasa mengistiqamahkan kita semua di atas jalan kebaikan sebagaimana Rasulullah juga senantiasa berdoa dengan doa beliau,
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
“Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan Hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.” [HR. at-Tirmidzi no.3522]

“Sesungguhnya karamah (seorang wali Allah) adalah bisa terus istiqamah”.
[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu, Majmu’ah al-Fatawa, 10:29]


Jakarta, 4 Agustus 2017
@santoso_rifqi

Kamis, 03 Agustus 2017

Mari Membaca



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

                Dua belas lewat lima puluh tujuh menit, tiga menit menjelang pukul satu siang. Cuaca Jakarta tetap panas dengan suhu 31º, cukup terik sehingga bisa membuat air di dalam toren menjadi hangat. Saking panasnya, tikus di dapur berdecit, mungkin karena panas atau mungkin karena lapar. Oh ya, semalam ada tikus yang terkena jebakan lem dan terperangkap hingga sekarang di dapur. Satu lagi hal tidak penting yang kalian ketahui di siang ini. 
                Siang ini sangat sepi, sebagaimana siang-siang sebelumnya. Hanya suara kipas, sesekali terdengar suara notifikasi wa atau line, kadang lewat tukang batagor hingga tukang tape, suara ibu memanggil anaknya pulang, suara anak kecil berlarian, suara bapak-bapak ngobrol, lah jadi rame, heran. Ekspektasi memang kadang tak sesuai realita, mau mengisahkan hari yang sepi, malah rame ternyata.
                Satu lewat dua puluh tiga menit, baru dua paragraf disana. Tiga puluh menit habis hanya sekedar untuk menata kata dan mencari inspirasi tulisan. Menulis memang tak semudah kelihatannya. Kita takjub dengan para penulis yang sepertinya mudah bagi mereka menulis buku itu bahkan ada yang hingga berjilid-jilid. Kita takjub, kemudian kita mencoba untuk menulis, ternyata sulit kita rasa. Sulit mencari tema, sulit menyusun diksi, sulit menuangkan opini, sulit meyakinkan dirinya, dan semua hal yang akhirnya membuat kita menyerah untuk menulis. Kita mungkin mempunyai banyak buku bacaan di rumah, walaupun sebagian besarnya adalah buku materi sekolah yang hanya dibaca ketika ada tugas atau ketika mau ulangan atau dibuka sekedar formalitas di depan orang tua, saya tahu karena saya pelakunya. Itu masalahnya, kita jarang membaca. Akhirnya kamus kosakata kita miskin, itu sebabnya kenapa kita kesulitan memilih kata dan menyusun diksi kalimat.
                Membaca, sebenarnya di zaman sekarang ini saya pribadi yakin minat baca masyarakat, khususnya generasi muda, cukup tinggi. Masalahnya, yang menjadi bahan bacaan kebanyakan adalah status-status di media sosial yang umumnya berisi curhatan pemilik akun, dengan bahasa yang jauh dari kata baku bahkan dengan struktur penulisan kata yang terdiri dari kombinasi huruf dan angka yang jamak kita kenal dengan huruf alay. Bahan bacaan lain, masih dari sosial media, yang banyak digandrungi adalah status berisi berita hoax/palsu atau lebih parah status yang memerintahkan untuk like-comment-share kemudian yang melakukannya diiming-imingi masuk surga atau kalau tidak maka dapat adzab. Hal ini yang menurut saya pribadi menjadikan kita miskin kosakata. Tidak semua memang, ada di antara akun-akun sosial media yang masih memposting status berisi berita akurat, dengan pemilihan kata yang tepat, tapi jumlahnya tak banyak.
                Membaca buku, itu mungkin salahsatu opsi yang dapat dilakukan untuk menambah koleksi kosakata dan juga khazanah keilmuan kita. Cobalah kita membaca buku-buku umpama karangan Buya Hamka, kita akan mendapati banyak sekali kosakata yang mungkin baru kali pertama kita dengar. Selain itu dengan membaca kita dapat belajar bagaimana cara menyusun diksi kalimat dengan tepat, bagaimana cara memilih gaya bahasa dalam tulisan, dan lain sebagainya. Zaman semakin mudah, bila tak sanggup untuk memiliki cetakan bukunya, kita bisa mendapatkan buku-buku tersebut dalam versi ebook atau pdf-nya. Tapi tentu saja, godaan membaca versi ebook lebih besar dibanding dengan membaca cetakan asli bukunya, yang tadinya fokus membaca lama kelamaan mungkin melipir jadi buka sosial media dan sebagainya, ya mungkin bisa diatasi dengan memasang smartphone dalam mode pesawat selagi kita membaca.
                Dua lewat tiga belas menit, sudah satu jam rupanya dan apa yang saya tulis masih beberapa paragraf saja. Saya semakin takjub dengan kisah pendahulu kita yang amat gigih dalam menulis dan menelurkan karya. Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu yang menyusun kitab al ‘Aqidah al Wasithiyah hanya dalam sekali jalsah (duduk) yaitu selepas shalat Ashar, atau kisah Imam an Nawawi rahimahullahu yang beliau akan terus menulis kitab hingga tangan beliau kaku baru setelah itu beliau terpaksa meletakkan pena-nya, atau Imam Bukhari yang senantiasa menulis sehingga makanpun beliau disuapi karena tidak mau berhenti menulis, atau kisah-kisah lainnya. Hasilnya, kita sekarang bisa melihat kitab-kitab mereka yang dalam satu judul saja bisa berjilid banyaknya dan satu jilid kitab mereka tebalnya bisa lebih dari 500 halaman. Padahal, diantara mereka ada yang umurnya hanya sampai sekitar 40 tahun, ada yang 50, banyak yang hingga 60 tahun, dan sedikit diantara mereka yang lebih dari itu. Usia mereka berkah, sehingga mereka bisa meninggalkan karya tulis yang banyak bahkan diantaranya masih ada yang berbentuk manuskrip atau yang belum selesai ditulis.
                Kita mungkin belum bisa “se-ekstrem” mereka dalam menulis dan membaca, tapi mari kita teladani kegigihan mereka, bukan tidak mungkin suatu hari nanti kita bisa memiliki kesungguhan seperti mereka. Selain itu, mari kita latih diri kita untuk menulis dari sekarang, bisa dalam bentuk menulis di buku harian, menulis quotes singkat, menulis diblog pribadi, menulis namaku di hatimu, atau apa saja yang dapat melatih kita dalam menulis asalkan itu positif dan kita bertanggung jawab atasnya.

Jakarta, 3 Agustus 2017
@santoso_rifqi

Sabtu, 29 Juli 2017

Mau Cerita, Boleh?



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Cuaca Jakarta sedang panas ketika saya menulis ini, 32º C panasnya, setidaknya itu yang dikabarkan aplikasi di smartphone saya yang nggak terlalu smart juga. Saat menulis ini, percayalah bahwa saya menulisnya dalam keadaan telanjang. Ya, telanjang, telanjang kaki, tentu karena nggak boleh pakai sandal di dalam rumah. Penting? Jelas tidak, saya hanya menulis apa yang saya pikirkan saja, sembari duduk di hadapan meja karena mejanya tidak bisa dijadikan tempat duduk juga karena saya belum mantap duduk berhadapan dengan bapakmu. Ah sudahlah.
Bingung, entah ingin menulis apa. Biasanya, di saat seperti ini, di saat  tidak tau mau ngapain, saya biasanya disuruh tidur siang. Katanya, “Udah sana tidur, daripada nggak ngapa-ngapain”. Kata siapa? Kata ibu saya. Oh ya, bahas ibu saya saja kalau begitu. Lagipula, beliau pun nampaknya tak akan berkeberatan kalau saya bahas disini, dalam konotasi yang baik tentunya.
Ibu saya, beliau perempuan, tentu saja karena bila pria maka dia ayah saya. Beliau anak sulung dari 5 bersaudara. Lahir di desa Balapulang, Tegal, pada hari Kamis Pahing 18 Juni 1970. Saya tahu beliau lahir Kamis Pahing (pahing, salahsatu weton hari untuk kalender Jawa) karena saya lahir di hari Senin Wage. Ini berhubungan dengan penentuan hari saya dikhitan menurut adat Jawa, tapi mungkin itu akan dijadikan tulisan tersendiri di suatu saat nanti dikala saya siap menulisnya, Insya Allah. Kembali ke ibu saya, beliau sesuai pengakuannya, adalah anak yang tomboy, suka memanjat pohon, dan pernah tak jadi ke sekolah karena tercebur di sawah. Aneh, sifatnya ini nggak menurun ke saya.
Beliau juga suka menulis puisi. Ya, itu yang saya ketahui setelah tak sengaja menemukan notebook kecil yang berisi puisi-puisi gubahannya, sepertinya ditulis ketika beliau masih remaja. Yang ini sepertinya menurun ke saya, saya juga suka menulis, walaupun menulis status di media sosial, toh sama-sama menulis, kan? Ibu juga pintar dalam urusan hitung menghitung, makanya beliau mengaku ketika dulu semasa SMA pernah “dipaksa” oleh guru-guru untuk mengambil jurusan IPA tapi beliau lebih memilih jurusan IPS, katanya ingin mengasah kemampuan hitungnya karena memang beliau ingin menjadi akuntan. Ketika dua kebiasaan ini bergabung, wah luar biasa, dicatatnya semua detail pengeluaran rumah tangga bahkan recehan sekalipun di dalam sebuah buku, eh enggak bahkan tiga buku, beberapa catatan juga saya temukan di beberapa lembar sobekan kertas terpisah. Bukan pelit, serius beliau nggak pelit, tapi semata-mata agar jelas uang arus uang itu kemana saja.
Beliau pernah bekerja, kalau tidak salah ya sebagai akuntan. Kalau tidak salah juga, di tempat kerja itu pula beliau bertemu dengan ayah saya yang saat itu belum menjadi ayah saya dan saya pun belum menjadi anak mereka. Mereka sama-sama bekerja disana walaupun dalam divisi yang berbeda. Kemudian keduanya sepakat untuk menikah, yaitu 2 November 1996, kemudian di bulan September 1997 saya lahir. Setelah saya lahir, beliau masih bekerja namun tetap tidak melupakan tugasnya sebagai ibu, masih menyusui sampai umur saya 2 tahun, atau lebih ya? Hahaha saya tidak ingat. Kemudian, beliau resign dari kantornya ketika usia saya 3 tahun. Katanya, suka kasihan kalau saya dititipin, apalagi katanya saya dulu punya kebiasaan bangun malam karena beliau dan ayah saya kalau pulang dari kantor memang malam. Ah iya, ibu juga bilang kalau kebiasaan saya suka kopi hitam ya dari umur 3 tahun ini, katanya dulu kalau kebangun malam, salahsatu kakaknya ayah saya yang momong saya, kemudian bawa saya nonton televisi sambil disuapin kopi hitam sesendok demi sesendok. Entah, tapi begitulah yang saya dapat.
Sejak resign, beliau fokus menjadi ibu rumah tangga dan mengasuh anak semata wayangnya ini, walaupun saya lebih besar dari mata wayang tentunya. Beliau mengasuh saya hingga sampai saatnya saya masuk taman kanak-kanak. Sebelum itu, beliau yang mengajari saya mulai dari berbicara, berhitung, menulis, mengenal bentuk, dan doa-doa harian. Ya, saya diajari beberapa doa dan ayat Al-Quran walaupun belum bisa membaca tulisan Arab seperti Al-Fatihah dan Ayat Kursi yang kemudian beliau ajari saya untuk membacanya setiap akan tidur. Oke, kembali ke taman kanak-kanak. Maksudnya, kembali ke cerita tentang itu. Setelah resmi menjadi murid taman kanak-kanak, kegiatan belajar saya menjadi lebih intensif. Disana saya diajarkan bagaimana menulis, menyambung titik, berhitung, membuat kerajinan tangan, menggambar, ngaduk semen, hmm oke mungkin berlebihan. Tapi selain itu, di rumah saya juga dibuatkan soal-soal yang harus saya isi kemudian beliau menyuruh saya untuk memberikan isian soal itu ke wali kelas untuk dinilai. Unik memang.
Ibu saya cukup “tegas”, kata lain pengganti kata “galak”, dalam mengajari saya. Kalau saya di rumah malas-malasan maka beliau akan marah atau setidaknya akan memberikan cubitan. Saya kesal, dahulu, sampai akhirnya saya menyadari belakangan ini bahwa saya memang tipe orang yang kurang inisiatif, kalau dibiarkan ya nggak bakal ngapa-ngapain sampai Metallica rilis album religi. Jadi, beliau lebih dahulu menyadari hal itu dan melatih saya untuk bisa mandiri dan inisiatif. Soal mandiri, saya memang anak penakut, pendiam dan jarang bersosialisasi. Bahkan saking penakutnya, saya tidak hanya minta diantar ibu saya ke sekolah tapi juga minta ditemani hingga jam pulang sekolah, bahkan saya akan menangis dengan keras kalau mendapati ibu saya tidak ada di sekolah, walaupun beliau hanya pergi sebentar sekedar untuk membeli sayur. Bukan sombong, tapi ini berlangsung hingga saya kelas 3 SD. Dampaknya, saya nggak punya teman selama satu semester awal, baik di taman kanak-kanak atau di SD, hahaha. Orang tua teman-teman saya selalu memberitahu anaknya agar jangan berteman dengan saya karena saya cengeng. Tapi Alhamdulillah saya walau cengeng tapi bisa mendapat peringkat 2 waktu itu, sehingga orang tua teman-teman saya melunak bahkan menganjurkan anaknya untuk mengajak saya main.
Ibu saya orang yang baik, pun saya yakin ibu Anda juga pasti begitu. Metode beliau mendidik saya mungkin keras, ya semata-mata biar anaknya ini yang sifatnya sudah saya sebutkan di atas tidak terlalu lembek, kalau sudah lembek nanti bau terus disiram. Oke lupakanlah. Salahsatu yang saya syukuri dari beliau adalah beliau tidak pernah mengiming-imingi saya hadiah apapun untuk suatu pencapaian yang berhasil saya lakukan. Misalnya ketika beliau mengajari saya berpuasa, waktu itu saya masih berumur 6 tahun, beliau selalu bilang kalau saya anak yang hebat kalau saya bisa berpuasa sampai maghrib. Terdengar seperti tantangan, saya pun menyanggupinya dari yang awalnya hanya berpuasa sampai jam 10 pagi saya mencoba untuk puasa sampai maghrib. Beliau hanya mengatakan bahwa kalau puasa penuh kita dapat pahala, bisa masuk Surga dan di Surga kita bisa minta apa saja, sedangkan kalau tidak puasa nanti dimasukkan ke Neraka dan dihukum. Atau ketika saya sekolah maka beliau hanya menyuruh saya untuk sekolah yang benar, biar nanti jadi orang pintar, maksudnya bukan dukun tentu saja, nanti kalau pintar bisa jalan-jalan sendiri kemana aja yang saya mau juga nanti bisa bantu orang-orang yang susah. Namun, walaupun tidak diiming-imingi, seringnya beliau memberi saya hadiah, katanya untuk ucapan selamat karena berhasil melakukan sesuatu, walaupun hadiahnya kadang lewat berselang sekian hari atau sekian bulan. Beliau mengajari saya keikhlasan, bahwa kepuasan hati itu jauh lebih berharga daripada kepuasan fisik, bahwa balasan materi itu hanya sebagai bonus, saya suka sudut pandang itu, sayangnya baru sekarang ini saya menyadarinya.
Sekarang pukul 14.37 WIB, cuaca Jakarta berubah mendung. Tapi hawanya tetap panas. Ah, ternyata kipasnya mati, benda mati yang mati.
Sampai mana tadi? Saya scroll up dulu ke atas, karena kalau scroll down ke bawah. Sekali lagi, tidak penting untuk dibahas. Tapi nyatanya kau masih tetap setia bersamaku. Baiklah, sudah saya scroll up dan mari kita lanjut bercerita.
Ibu saya sangat pandai mengatur keuangan, satu kelebihan lagi. Asal tau saja, tanpa mengeluh dan mengharap belas kasih, ayah saya sampai tulisan ini Anda baca adalah karyawan dan masih berstatus outsourcing atau karyawan kontrak atau buruh bahasa kasarnya. Gaji beliau ya setara UMR, mungkin lebih, sedikit. Dan ibu saya sangat pandai mengatur keuangan sehingga kami sekeluarga masih tidak kekurangan, masih bisa makan daging setidaknya seminggu sekali, membeli keperluan rumah tangga, sedekah, bahkan membelikan hadiah. Ya, sepengetahuan saya ibu saya pernah menyisihkan uang belanja kemudian ditabungnya untuk membeli hadiah, khususnya untuk ibu beliau (mbah) dan juga ibu dari ayah saya (nenek), dan hadiah yang diberikan juga berupa cincin dan/atau gelang emas untuk keduanya. Selain itu ibu saya juga ketika berbelanja maka dilebihkan, untuk nenek saya katanya. Dan ibu saya masih bisa bersedekah, biasanya dalam bentuk makanan pokok ke tetangga yang dirasa lebih kekurangan dari kami. Ibu bilang kalau saya sudah sukses umpamanya, jangan lupa ke orang-orang yang dulu pernah nolong, jangan lupa juga sedekah, yang bisa dikasih untuk nolong orang ya kasih, yang perlu ditabung ya ditabung, sisanya pakai secukupnya. Simple.
Beliau nggak sekedar ngasih wejangan, tapi juga contoh langsung. Apa saya termotivasi? Jelas. Bahkan saya menjadikan membahagiakan ibu sebagai tujuan hidup saya, mungkin juga kamu, kamu, iya kamu, yang mungkin nggak inget aku, hehe. Saya selalu berusaha membuat beliau tersenyum bangga. Saya suka karena beliau nggak menuntut yang macam-macam kepada saya, malah justru saya bertekad memberikan yang macam-macam itu sebagai bukti saying saya. Mungkin saya dan beliau nggak selalu akur, malah kayaknya berdebat tiap hari. Tapi setelah itu, saya akan langsung rebahan sambil kepala saya menyandar di kaki beliau dan seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Saya selalu merasa aman dan nyaman bahkan sampai saya besar pun hal tersebut masih saya lakukan. Entah, kalau saya sakit demam, saya selalu dipeluk beliau, setelah itu besoknya demamnya reda.
Saya ingat, hari itu adalah hari kelulusan SMP. Ada sebagian teman yang maju ke panggung bersama orang tuanya untuk diberi piagam karena memperoleh nilai UN tertinggi di sekolah. Di saat itu beliau nepuk paha saya pelan, “Qi, ibu berdoa mudah-mudahan kamu nanti bisa bawa ibu naik ke atas panggung itu juga ya”, sambil menunjuk ke panggung dan hanya bisa saya balas dengan menjawab, “Iya”. Saya berusaha mewujudkannya, dan pencapaian akademik terbesar saya terjadi di semester 2 SMA ketika saya berhasil berada di peringkat 1. Ibu saya bangga, beliau senang sekali, sebagaimana senangnya ketika saya lulus dari SD dan SMP dengan nilai rata-rata di atas 8.5, beliau mengucapkan selamat dan itu adalah yang terakhir kali bagi saya.
Sekarang pukul 15.12 WIB, gerimis mulai turun dan adzan Ashar berkumandang sekitar 9 menit lagi untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Saya ragu untuk melanjutkan menulis, kacamata saya mulai berembun dan kelenjar lakrimalis saya mulai berontak namun saya kekang semampu saya, setidaknya sampai selesai penulisan ini. Baiklah, tanpa berpanjang kalam saya harus menyelesaikan apa yang telah saya mulai.
Saya naik ke kelas XI, dan bertekad untuk menjaga peringkat saya. Tidak mudah, tapi patut dicoba. Tepat sebulan sebelum UAS semester awal di kelas XI, ibu saya jatuh sakit. Kepalanya sangat sakit katanya, pusing, seperti dipukul-pukul. Kami tidak berfirasat apapun, kami kira hanya migrain biasa. Semakin lama kondisinya tak kunjung baik. Beliau mulai mengigau. Dua minggu berlalu, sempat dibawa ke klinik dan katanya ibu saya terkena vertigo. Setelah itu, beliau tak kunjung pulih, bahkan suatu waktu beliau pernah meminta tolong saya mengganti baju beliau kemudian beliau memegang tangan saya dan mengatakan sesuatu yang kemudian saya tangkap sebagai wasiatnya, tapi biarlah saya yang tahu sendiri. Saya kaget sembari menepis perkataannya, “Apaan sih, Bu? Nggak usah ngomong macem-macem, ibu sembuh kok nanti.”, dengan agak sedikit berbisik, walaupun tidak ada siapa-siapa waktu itu di kamar. Setelah itu, ya setelah itu saya kembali ke depan meja yang saat ini saya juga tengah menulis kisah ini disana, saya menengadahkan tangan, “Ya Allah, hamba banyak melakukan kesalahan kepadanya, jangan Kau ambil dia dalam keadaan saya belum sempat membahagiakannya”, seketika saya tersedu-sedu, saya menangis sebagaimana dahulu semasa kecil, namun bedanya kali ini beliau tidak sedang akan pergi sebentar ke tukang sayur tapi lebih jauh dari itu.
Sekarang 16.42 WIB, hujan turun dengan deras semenjak kumandang Ashar tadi. Sesekali berhenti, kemudian datang kembali. Kali ini saya sudah mandi setelah sebelumnya shalat Ashar dan kehujanan di jalan, kemudian tak lupa menyapa 4 pengikut setia yang selalu menunggu di depan pintu rumah. Tenang saja, mereka kucing walaupun betina semua, namun saya tentu masih normal, Alhamdulillah.
Setelah perbincangan itu, beliau tidak lagi mampu berbicara, pandangannya kosong dan setengah badannya tak bisa digerakkan. Hari itu hari Minggu, beliau dilarikan ke rumah sakit. Setelah pemeriksaan, beliau didiagnosa mengalami pecah pembuluh darah di bagian otaknya dan menunjukkan gejala stroke ringan. Setelah dilakukan serangkaian tindakan medis, ibu saya sudah dapat kembali berbicara walau kadang masih mengigau. Sudah malam saat itu, ditambah besoknya adalah hari pertama UAS. Saya dipaksa pulang dan fokus untuk UAS. Sempat menolak dan ingin di rumah sakit saja, namun karena dibujuk akhirnya saya mengalah.
Senin 2 Desember 2013, hari pertama UAS. Semenjak pagi memang sudah ada firasat yang tidak mengenakkan, namun saya tepis. Tepat setelah bel tanda masuk, jam 11 siang waktu itu. Saya baru selesai mengisi kolom nama, ada guru bagian kesiswaan yang memanggil saya dan menyuruh saya berkemas. Perasaan sudah berkecamuk, sambil menepis itu saya juga mempersiapkan diri untuk kondisi terburuk. Singkatnya, saya dikabari bahwa ibu saya masih kritis dan drop, segera saya ke rumah sakit. Dan sesampainya disana ternyata memang beliau sudah wafat sejak pukul 11 siang.
Sebagai manusia normal, saya bersedih dan menangis, namun sebisa mungkin mencoba tegar dan tidak bertindak meratap di luar batas. Ini yang beliau ajarkan kepada saya semenjak kecil. Sekarang disaat beliau tidak ada, setidaknya saya ingin membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa semua yang diajarkannya bukan sesuatu yang sia-sia.
Hujan makin deras, suhu udara sekarang 27º C.
Rindu, tentu rindu. Dulu, kalau hujan begini biasanya ibu masih duduk di tempat shalatnya, entah sambil dzikir, doa, atau baca Al-Quran. Kadang iseng suka tiduran di pangkuannya, atau duduk sambil baca buku deket beliau. Sekarang, udah nggak bisa begitu lagi. Hal-hal sederhana yang nampaknya remeh, tapi akan sangat bermakna ketika sudah tak bisa lagi dilakukan. Entah bagaimana dengan Anda, tapi saya ketika itu baru menyadari bahwa sesuatu akan terasa amat berharga justru ketika sesuatu itu hilang. Bodoh memang, karena waktu tak bisa diulang, yang ada hanya penyesalan.
Terpukul, jelas. Apalagi, saya seperti kehilangan tujuan hidup waktu itu. Tapi, biarlah mungkin itu akan menjadi tulisan tersendiri, Insya Allah. Masih banyak sebetulnya, tapi cukup secara garis besarnya saja. Orang tuamu cuma butuh kamu, anaknya. 

“Karena umur ibumu belum tentu lebih panjang dari waktu sibukmu,
Berbaktilah sebelum terlambat,
Sebelum tiba penyesalan tiada guna.”
[Ust. Dr. Firanda Andirja]
---
Jakarta, 29 Juli 2017