Rabu, 01 Februari 2017

Hujan



Assalamu’alaikum Warahmatullah


            Kali ini saya menulis di dalam kamar, di antara rintik hujan yang mulai berubah deras. Udara mulai sejuk dan suasana menjadi sepi di luar sana, begitu tenang hingga yang ada hanya suara gemericik air dan petir yang sesekali menyambar. Mungkin sebagian anda akan melanjutkan tidur dikala hujan turun, atau sebagian lagi mungkin cenderung bermalas-malasan di atas kasur menikmati suasana hujan yang sejuk dan aroma tanah yang khas, atau bagi golongan yang fanatik mungkin akan langsung berlari dan menikmati guyuran hujan, atau mungkin ada yang merasa hujan nggak hujan sama saja. Entah dengan anda, tapi hujan selalu istimewa bagi saya. Salahsatunya karena hujan adalah rahmat dari Rabb semesta alam sebagaimana firman-Nya,

الذي جعل لكم الارض فراشا والسماء بناء وانزل من الساء ماء فاخرج به من الثمرات رزقا لكم

“Dia yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu…” [QS. Al-Baqarah : 22]

            Selain itu, keistimewaan lain dari hujan bagi saya pribadi adalah air yang turun seakan membawa bermacam kenangan masa lalu yang pernah kita lupakan dan tiba-tiba muncul seketika itu juga. Kenangan-kenangan itu muncul begitu saja, baik berupa kenangan yang menyenangkan atau kenangan pahit yang menyisakan duka. Bersamaan dengan hujan yang mulai reda, mungkin ada diantara anda yang juga baru berhenti dari tawa atau malah baru berhenti terisak. Hujan seperti mempunyai ikatan emosional bagi sebagian orang.

            Ada bait-bait syair yang saya dapatkan berkenaan dengan hujan dan kurang lebih berkesesuaian dengan apa yang saya rasakan,


Hujan adalah rahmat
yang bersamanya turun kedamaian, kerinduan
dan berjuta kenangan yang tak terlukiskan

Hujan adalah kawan
dikala sepi mendera atau sedih merasuk dada

Hujan adalah kekasih
yang menyajikan kenyamanan dalam dekap sejuknya
yang membelai dan menidurkanmu dalam buainya

Terlepas dari pandangan anda mengenai hujan, maka tidak sepantasnya untuk kita mencela hujan. Mungkin anda tidak dapat bepergian karena terhalang hujan namun apakah hal itu dapat menjadi alasan untuk anda mencela dan mencaci hujan? Terkadang kita terlalu egois sehingga kita memandang dari sudut pandang kita saja. Padahal, hujan yang turun semata-mata bukan ditujukan untuk menghalangi kita untuk beraktivitas saja, di sisi lain hujan turun juga untuk mengisi sumur-sumur air kita, atau untuk minum hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan di luar sana, dan mungkin juga hujan turun berkenaan dengan doa orang-orang yang dilanda kekeringan sehingga hujan menjadi jawaban atas doa mereka yang menggembirakan hati-hati mereka. Mungkin juga hikmah terbesarnya, Dia menjadikan kita terhalang dari urusan kita dengan sebab hujan ini adalah untuk melindungi kita dari bahaya yang mungkin mengancam kita, bukankah kita yakin bahwa Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita sebagai hamba-Nya?

Berkenaan dengan banjir, pantaskah menyalahkan dan mencaci hujan padahal banjir yang terjadi adalah dikarenakan ulah kita juga? Aneh bila ada orang yang senantiasa membuang sampah sembarangan sehingga menyumbat saluran-saluran air, kamudian tatkala hujan turun dan terjadi banjir lantas dia menyalahkan hujan? Berhentilah menyalahkan keadaan..

Mungkin saya sudahi dulu tulisan saya kali ini. Nasehat-nasehat yang ada sesungguhnya lebih pantas ditujukan untuk penulis pribadi sebagai bahan introspeksi diri, namun tak ada salahnya juga untuk memaparkannya di muka umum, siapa tahu ada yang sependapat dengan opini penulis. Semoga tulisan kali ini bermanfaat.

Mendung selalu sama,
walau Bumi tak henti berkarya
walau silih berganti masa
walau terjadi sekian cerita
namun langit tak berubah jua

ke atas kita memandang
di angkasa kenangan kita terjaga

Jakarta, 4 Jumadil Ula 1438 H/ 1 Februari 2017 M
@santoso_rifqi

Senin, 30 Januari 2017

Alhamdulillah..Dimanapun Kau Mampu, Ucapkanlah



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, satu kata berjuta makna. Satu kata yang harusnya senantiasa membasahi lisan setiap hamba. Satu kata yang tidak hanya terucap dikala bahagia melanda, namun juga disaat musibah dan ujian datang menyapa. Satu kata yang dengannya Dia kan mengganjar dengan berlipat-lipat pahala. Satu kata yang menunjukkan eksistensi kita sebagai hamba yang senantiasa memuji dan ridha terhadap takdir-Nya.


Dari Abu Sa'id al Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi yang mulia, Muhammad ibn 'Abdillah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  pernah bersabda, 


  ومن قال ٱلحمد لله رب ٱلعالمين من قبل نفسه كتبت له ثلاثون حسنة وحط عنه ثلاثون سيئة ...


... "Barangsiapa yang mengucapkan Alhamdulillaahi rabbil-'aalamiin (Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam) dengan ikhlas dari dirinya (tanpa ada sebab berupa nikmat yang ia terima), maka dituliskan baginya tiga puluh kebaikan dan dihapuskan darinya tiga puluh kesalahan." [HR. Ahmad dalam al Musnad  dan al Hakim dalam Mustadrak-nya. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani rahimahullahu  dalam Shahiihut-Targhiib wat-Tarhiib.]


Hadits tersebut cukup panjang, menjelaskan tentang keutamaan dari empat kalimat yang Allah cintai yaitu Subhaanallaah, Alhamdulillaah, Laa Ilaaha Illallaah, dan Allaahu Akbar. Semua kalimat itu diganjar dengan 20 pahala dan dihapus darinya 20 kesalahan, kecuali kalimat Alhamdulillaah  yang dengannya diganjar 30 pahala dan dihapus darinya 30 kesalahan. Mengapa? Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah hafizhahullah  menjelaskan, "Pahala membaca Alhamdulillaah  lebih banyak daripada pahala bacaan yang lainnya karena pada umumnya pujian itu datang setelah ada sebab seperti makan, minum, atau timbulnya kenikmatan. Maka seakan-akan pujian itu hanya timbal balik dari kenikmatan yang ia terima saat itu. Maka, manakala pujian itu timbul secara ikhlas dari dirinya tanpa didahului munculnya nikmat baru pada saat itu, maka bertambahlah pahalanya."


Oleh karena itu, pujilah Dia disaat lapang maupun dikala sempit. Apapun yang menimpa kita, tak lain adalah kebaikan-Nya walaupun kita menganggapnya sebagai keburukan. Tak ingatkah kita dengan firman-Nya,


وعسى أن تكرهوا شيأ وهو خير لكم وعسى أن تحبوا شيأ وهو شر لكم والله تعلم وأنتم لا تعلمون


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." [QS. Al Baqarah : 216]


Maka sekali lagi saya ucapkan Alhamdulillah atas segala apa yang menimpa saya, salahsatunya adalah kondisi mata saya. Alhamdulillah, semoga Allah tidak mencabut penglihatan saya di dunia terlebih lagi di akhirat kelak. Alhamdulillah, mata saya masih bisa dipakai untuk melihat walaupun sudah berkurang kadar kemampuannya karena sudah minus dan juga menderita silinder.

Kacamata yang telah menemani dalam suka dan duka, dikala sendu sendiri, senantiasa setia hingga kini.

Pada artikel ini, tiada maksud saya untuk mengeluh, sesungguhnya Allah Mahatahu isi hati hamba-nya. Saya hanya ingin memberitahukan, dengan kondisi saya yang sudah demikian matanya, otomatis penglihatan saya sudah tidak setajam dulu. Kacamata yang saya miliki juga belum diganti lagi sejak kira-kira 4-6 tahun yang lalu karena saya rasa kacamata yang saya pakai masih cukup membantu untuk melihat. Namun saya hanya ingin mengklarifikasi, bila ada di antara pembaca sekalian yang mengenal saya kemudian berpapasan muka dengan saya dan saya tidak menegur sapa, maka itu bukan karena saya sombong atau sengaja melakukannya, namun karena seringkali saya baru dapat melihat jelas wajah menganalisanya  pada jarak dekat, terlebih lagi bila malam hari dan penerangan tidak memadai maka itu cukup menyulitkan mata saya untuk fokus kepada objek.


Maka lewat artikel ini pula saya meminta maaf apabila ada yang selama ini salah sangka kepada saya. Bila anda kenal saya, maka tegurlah saya, Insya Allah saya tidak lupa dengan anda yang pernah mewarnai hidup saya, saya hanya butuh waktu untuk menganalisa wajah anda dari jarak dekat.


Akhir kata, perbanyaklah memuji Allah yang senantiasa ada untuk hamba-Nya, yang tak pernah jemu mendengar keluh kesah kita. Ingatlah Dia yang telah memberi lebih banyak dari yang kita pinta, yang senantiasa mengasihi dan membuka pintu taubat bagi hamba yang ingin kembali pada-Nya.


Semoga artikel yang singkat ini bermanfaat khususnya bagi saya pribadi dan umumnya bagi pembaca sekalian.


Wassalamu'alaikum Warahmatullah

Jakarta, 21.37 WIB

3 Jumadil Ula 1438 H/30 Januari 2017 M

@santoso_rifqi

Sabtu, 05 November 2016

Sibuk

Assalamu'alaikum Warahmatullah

Akhirnya bisa ngepost lagi. Yes!

Lebay? Mungkin. Tapi setidaknya bagi saya enggak begitu. Kenapa? Hmm mungkin post saya kali ini akan mencoba untuk mengungkap hal-hal yang dianggap tabu menjadi layak untuk diperbincangkan, semua akan dikupas secara tajam setajam... Singlet.
Ehm maaf, maklum jomblo jadi kurang fokus #kodekeras.

Saya adalah seorang mahasiswa jurusan teknik sipil di salahsatu universitas di Jakarta. Sebagaimana telah kita ketahui bersama, fakultas teknik adalah fakultas yang bisa dikatakan cukup "keras" baik ditinjau dari segi materi yang diajarkan, tugas yang diberikan, biaya perkuliahan, dan lain sebagainya. Itulah kenapa fakultas teknik kadang disebut juga sebagai Macan Kampus. Kenapa Macan Kampus? Karena Macan Kemayoran itu julukan untuk klub Persija (tratak dung cess). Banyak spekulasi dan teori yang menjelaskan asal usul julukan Macan Kampus ini, jadi karena belum ada titik temu diantara teori-teori yang ada, kita skip saja pembahasan tentang hal ini.

Sebagai mahasiswa teknik sipil, waktu dan tenaga saya benar-benar terkuras habis. Tugas dan project berdatangan setiap hari tanpa henti. Mungkin hal yang sama dirasakan oleh setiap mahasiswa di setiap jurusan dan fakultas, namun bagi saya yang membedakan antara kami dan mereka adalah intensitas dan kuantitas tugas yang datang serta deadline yang terlalu sempit. Dosen di jurusan saya satu sama lain seakan-akan beranggapan bahwa mereka adalah satu-satunya dosen di semester itu sehingga masing-masing memberikan tugas yang seabrek banyaknya dan wajib dikumpulkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Kami seringkali menerka apa yang sebetulnya dipikirkan dosen.

"Wah mahasiswa saya pasti sangat bosan, mereka pasti bingung bagaimana menghabiskan waktu luangnya. Kalau saya beri mereka banyak tugas, pasti mereka amat gembira dan berterima kasih pada saya. Ah iya, itu ide yang bagus :)".

"Hmm mahasiswa saya pasti memiliki semangat yang menggebu-gebu dalam menuntut ilmu. Saya tidak boleh membuat mereka kecewa. Baiklah, saya akan memberi mereka tugas yang banyak dan setelah itu saya akan mengadakan post test atau quiz untuk menghibur mereka."

Dan disaat itulah kami mulai berdarah-darah.

Sejak saat itu, jadwal tidur 8 jam/hari terpangkas menjadi paling lama 4 jam/hari atau bahkan 1 jam/hari, tidur sejam juga sekedar "syarat" agar bisa mandi pagi. Gini-gini kita tetap takut kena angin duduk bray :v wkwkwk. Akhirnya seringkali kami "nyolong kesempatan" untuk tidur di kelas (jangan dicontoh gaess). Selain itu jadwal makan pun jadi tak terkontrol. Saya bahkan seringkali sarapan pakai air saja karena harus segera berangkat (T.T). Alhasil kondisi badan pun sering drop, dan sekarang saja post ini saya buat dalam keadaan saya sedang meriang, merindukan kasih sayang, halah. Ya tapi serius, saya di weekend ini malah terbaring lemas setelah menghadapi UTS yang menyita waktu tidur saya (keseringan begadang bray).

Nah ini yang jadi alasan utama saya kenapa jarang ngepost. Pas hari kerja, sibuk kuliah. Pas hari libur, sibuk ngerjain deadline. Hadehh, jadi enggak ada waktu untuk ngepost tulisan di blog. Apalagi waktu buat mikirin kamu, enggak sempat juga...
Kamu, sepatu maksudnya, wk udah satu semester terakhir sepatu-sepatu gak dicuci wkwkwk. Maafkan majikanmu ini ya, hiks hiks.

Yaudah gitu aja sih, gak penting-penting banget kan? Wk
Insya Allah dilanjut lain kali yak!
Terima kasih.

@santoso_rifqi

Rabu, 31 Agustus 2016

Mentari di Penghujung Agustus

Assalamu'alaikum Warahmatullah

Matahari cukup terik tatkala saya menulis postingan kali ini. Saya rasa belum pernah seterik ini, setidaknya semenjak beberapa hari belakangan dimana Jakarta diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga deras mulai ashar hingga waktu isya. Ya, benar kata pepatah, air susu dibalas dengan air tuba. Pepatah itu benar, walaupun saya tidak yakin apa korelasi pepatah tersebut dengan tulisan saya.

Tulisan ini saya kerjakan setelah saya menyelesaikan makan siang, ditemani segelas dingin Nutrisari rasa jeruk nipis, sembari membaca e-book Sherlock Holmes yang sejauh ini saya sudah membaca 4 novel, 12 seri petualangan, 11 seri memoar, dan kini tengah melanjutkan membaca kisah ketiga dari serial Kembalinya Sherlock Holmes. Tidak ada yang istimewa di siang hari ini, kecuali bahwa saya sempat mandi sebelum zhuhur tadi. Cukup istimewa, karena biasanya saya baru mandi menjelang maghrib.

Sekedar info, sebenarnya tidak ada maksud apapun dari tulisan saya kali ini. Tidak ada? Ya, tidak ada. Hebat bukan?

Setidaknya ini yang bisa saya lakukan untuk melepas rindu setelah kurang lebih sebulan saya tidak memposting apapun disini. Kenapa? Karena memang saya rasa belum ada sesuatu hal menarik yang dapat saya paparkan. Mungkin, doakan saja, setelah masuk kuliah akan ada hal² yang dapat saya paparkan kembali.

Terima kasih atas perhatiannya. Maaf sudah membuang 3 menit anda yang berharga. Maaf juga karena judulnya bila tak sesuai isinya, ya saya memang suka mendramatisir sesuatu.

@santoso_rifqi

Jumat, 15 Juli 2016

Nostalgila (?)

Assalamu'alaikum Warahmatullah.
Selamat sore menjelang maghrib.
Di Jum'at yang penuh berkah ini, 10 Syawal 1437 H, izinkan saya mengemukakan apa yang saya kira dapat dikemukakan.

Tadi pagi sekira jam 8 waktu Indonesia bagian hape saya, tak sengaja lewat depan rumahmu, ku melihat ada tenda biru. Hmm, jadi galau saya. Oke, yang sebenarnya adalah pagi tadi saat tengah mencari berita, saya tidak sengaja menemukan film Warkop DKI sedang diputar di salahsatu channel televisi (sebut saja TransTujuh). Mau tak mau walau sebenarnya mau, akhirnya saya menonton film tersebut. Filmnya tetap sama, menggelitik dengan candaan khasnya yang kadang disisipi kritik sosial dan "bumbu-bumbu nakal". Bukan filmnya yang saya persoalkan karena nyatanya saya tidak menontonnya, hanya saja tiba-tiba ingatan saya melanglang jauh ke belakang, ke masa saya belum kenal gadget, belum kenal uang, belum kenal tugas, belum kenal kamu. Hmm. *mikirkeras*

Kira-kira  itu 13 tahun yang lalu, dimana saat itu saya masih kecil, mungil, usil, dan suka nyemilin upil, #ehh. Saya rasa itu adalah masa-masa yang indah untuk saya dan siapapun yang merasakan kanak-kanak di era '90 sampai 2000-an awal. Masa dimana lapangan itu adalah taman bermain yang sesungguhnya, tempat beradu bola, beradu layangan, beradu keong, beradu sarung, beradu petasan, beradu jotos antara satu anak dengan anak lainnya, hehe. Semua terjadi di lapangan dan selesai pula di lapangan. Mungkin anak-anak di generasi sebelum tahun 1990 merasakan masa yang lebih asyik dari saya dan yang segenerasi dengan saya. Namun itu hanya asumsi saya pribadi yang bersifat spekulatif karena saya belum lahir sebelum tahun '90-an, jadi kita skip masalah tersebut.

Betul betul betul saya kangen masa kanak-kanak dulu. Kenapa? Karena anak zaman sekarang mungkin sudah nggak tau itu petak umpet, petak jongkok, bentengan, tok kadal, atau bola bekel ("be"-nya dibaca kayak baca "receh", dan "kel"-nya dibaca kayak baca "lemper"). Sebagian anak zaman sekarang mainannya udah gadget entah itu smartphone,iphone, ipad, komputer, laptop, tablet, kapsul, puyer, dan sejenisnya. Taman bermain? Ya rumah, lebih kecil lagi ya kamarnya. Dunianya segitu aja udah. Lama-lama terbentuklah sikap anti sosial dan individualistis. Harapan saya, semoga anak keturunan saya masih bisa main "di luar" rumah supaya kemampuan sensorik dan motoriknya bisa berfungsi maksimal. Ehm, harapan seorang jomblo.

Setelah membayangkan masa itu, seketika saya berpikir, kapan nikah? Oh tentu tidak. Sebenarnya yang saya pikirkan adalah betapa cepatnya waktu berlalu dan parahnya lagi saya nggak sadar akan hal itu. Dulu, semasa masih betah sedat-sedot ingus di hidung (entah dulu kenapa paling males ngebuang ingus, wk) waktu terasa panjaaaaaaaaaang sepanjang rinduku padamu. Bahkan jam tidur siang terasa seharian padahal cuma dari jam 12.00-15.00 saja, dan seringnya kita cuma pura-pura tidur biar gak kena marah ibu. Hehe, ngaku toh kalian paling males kalau disuruh bobo ciang? Kita berharap waktu cepat berlalu biar bisa segera kabur dari rumah dan main bersama kawan-kawan.

Dulu, keinginan saya itu pengen cepat besar biar gak perlu tidur siang, walau sekarang kangen banget tidur siang. Hmm memang seringkali kita menyadari berharganya sesuatu justru setelah sesuatu itu luput dari kita. Bener kan sob? Gak sia-sia saya makan siang pake asinan.

Mungkin dan memang mungkin, waktu terasa lama salahsatunya adalah karena saya dulu tidak punya kesibukan, selain bermain. Sangat beda dengan sekarang yang semakin hari semakin sibuk, mulai dari kuliah, ngerjain tugas, ikut rapat, ngejar deadline, mikirin kamu,, eh mikirin tugas maksudnya. Hidup jadi monoton. Berlalu begitu saja tanpa ada sesuatu yang berarti. Akhirnya usia kian menua, tubuh kian rapuh, namun kesibukan kian bertambah. Tanpa sadar kita menghabiskan masa muda, demi masa tua katanya, nyatanya masa tuanya malah untuk berobat dan menghabiskan apa yang dahulu dikumpulkan di masa muda. Jadi kurang berarti hidup ini rasanya kalau sekedar itu saja.

Entahlah, selama 13 tahun ini rasanya saya belum berbuat apa-apa. Mungkin terlalu sibuk untuk diri sendiri yang akhirnya mengabaikan hal lain selain saya sendiri.
Entah bagaimana dengan anda, yang pasti dan kita sama-sama sepakati adalah bahwa saya tahu kalau kalian tahu jika saya mengetahui apabila kalian tahu bahwasanya tahun ini merupakan sesudah tahun lalu dan sebelum tahun depan.
Mumet lagi toh?

Sekian corat-coret saya dalam mengisi kekosongan waktu, semoga tidak terlalu membuang-buang waktu anda.

Terima kasih atas perhatiannya dari saya yang butuh perhatian.


Wassalamu'alaikum

#JOSH
#JombloSampaiHalal
@santoso_rifqi

Selasa, 12 Juli 2016

Sepotong Senja di Dalam Kereta


Keren kan judulnya? Tiba-tiba aja gitu muncul di otak saya, ya setidaknya itu membuktikan klo saya punya otak. Oh ya, kali ini saya sedang dalam perjalanan pulang dari pulang kampung. Mumet toh? Gapapa itu artinya anda masih punya otak untuk dimumetin, bersyukur aja :D.

Bukan sombong dan gak bisa disombongin juga, saya balik ke Jakarta (setelah hampir lima hari berada di kampung halaman) dengan naik kereta api kelas ekonomi. Walaupun kelas ekonomi, kereta api sekarang sudah dilengkapi AC sungguhan, Air Conditioner bukan sekedar Angin Cepoy² atau Angin Cepat yang asalnya dari luar kereta. Kinerja pemerintah yang terus memperbaiki sarana dan prasarana publik, dalam hal ini transportasi masa, patut diapresiasi walaupun masih ada kekurangan disana sini menurut saya wajar karena kesempurnaan paripurna hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kereta terus melaju,
meninggalkan semua kenangan masa lalu
sementara aku disini
terduduk lesu, lapar, dan belum mandi
sembari mengarang bebas ala kadarnya.

Satu hal yang saya senang dengan transportasi publik yang satu ini adalah bebas macet, nyaman (untuk sekarang), relatif lebih murah, dan relatif lebih aman dari kecelakaan. Eh itu jadinya empat hal ya? Tak apalah, kalau bisa adil mengapa tidak? *nahloh*.

Setiap kali mudik, saya selalu terkenang masa lalu, disaat kereta belum bisa disebut sebagai transportasi yang "manusiawi" kecuali kelas eksekutif yang dari dulu tetap eksekutif. Mumet lagi? Maaf iseng ngetes aja, masih ada atau enggak otaknya.

Dulu, kelas ekonomi lebih layak diserupakan dengan camp pengungsian. Pengap dan penuh sesak, bahkan sekedar ngupil aja gak bisa karena tangan kita terhimpit badan orang lain, kecuali kalau anda bisa ngupil dengan kaki maka akan beda ceritanya. Masih bercerita masa lalu, untuk kelas ekonomi dan bisnis diberlakukan dua tiket yaitu tiket duduk dan tiket berdiri bahkan kalau "beruntung" anda bisa naik kereta tanpa tiket dengan berdiri di bordes (sambungan antargerbong) atau di toilet dikarenakan membludaknya manusia yang memanfaatkan transportasi ini. Masih terkenang dalam ingatan, dimana dulu naik kereta tatkala ingin kembalk ke Jakarta adalah sebuah perjuangan, apalagi bila menumpang kereta malam. Di lantai kereta pasti sudah bertebaran tubuh-tubuh manusia dengan segala rupa dan bentuknya. Tentu mereka bukan korban pembunuhan massal, ya mereka itulah penumpang tiket berdiri sehingga kalau ingin tidur maka lantai kereta disulap sebagai alas tidurnya. Otomatis bagi yang memiliki tiket duduk harus melangkahi kepala dan tubuh-tubuh yang tergolek lemah di lantai, syukur-syukur gak keinjak.

Ya namun itulah, dibalik kesemrawutannya, ia tetap meninggalkan kenangan indah bagi penggunanya. Setidaknya, saya nanti dapat bersombong-sombong riya dihadapan para cucu tentang transportasi zaman baheula yang "kurang memanusiakan manusia", hehe aneh memang namun setidaknya ada pengalaman yang dapat dibagi dengan harapan supaya mereka yang tidak merasakan "kejahiliyahan" tersebut bisa bersyukur atas kenikmatan dan kemudahan yang mereka terima.

Deretan sawah hijau telah berganti dengan hamparan aspal jalan..
Begitu pula rimbunan pepohonan telah berganti dengan padatnya perumahan...
Pertanda semakin dekat dengan Jakarta, kota Metropolutan dan Metropolitan..

Disini risalah ini berakhir..
Semoga ada hikmah yang dapat diambil, walaupun saya gak yakin ada hikmahnya, tapi tak apalah.

@santoso_rifqi